16 July 2020, 23:27 WIB

Indef: Setiap Negara Punya Masa Sulit Akibat Covid-19


M. Iqbal Al Machmudi | Ekonomi

INSTITUTE for Development of Economics and Finance (Indef) menanggapi prediksi Bank Dunia bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2020 tidak akan tumbuh atau bertengger di angka 0%. 

Direktur Program Indef Esther Sri Astuti, mengatakan semua negara akan mengalami masa sulit karena wabah Covid-19, namun saat ini yang perlu diperhatikan ialah kebijakan pemerintah terkait pemulihan ekonomi agar tidak terkontraksi terlalu dalam.

Baca juga: Hanwha Techwin Gandeng BIGI.ID Pasarkan Produk Solusi Keamanan

"Perekonomian akan tumbuh tergantung 3 hal, yakni human resources bila manusia bergerak maka ekonomi akan tumbuh, aliran modal yang menggerakan perekonomian, dan teknologi yang mendorong inovasi," kata Eshter saat dihubungi, Kamis (16/7).

Apabila 3 faktor tersebut tidak bisa berfungsi maksimal, sudah pasti pertumbuhan ekonomi pun akan terkontraksi sehingga perlu adanya kebijakan pemerintah yang tepat.

Eshter mengungkapkan bahwa pemerintah sebaiknya mendorong sektor Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) untuk membuka kembali lapangan pekerjaan bagi masyarakat.

"Lebih dari 50% tenaga kerja bekerja di sektor informal seperti UMKM maka dorong mereka agar bisa tetap bertahan dan meningkatkan kapasitas produksinya," ujar Eshter.

Pemerintah juga perlu memaksimalkan sektor komunikasi dan teknologi informasi karena sektor tersebut yang tidak turun bahkan meningkat.

"Dan terakhir pemerintah membuat paket kebijakan fiskal dan moneter yang saling bersinergi untuk mengatasi pandemi. Jangan otoritas fiskal dan moneter jalan sendiri sendiri," tegasnya.

Selain itu, Eshter juga mengapresiasi pemerintah yang telah menganggarkan Rp695,2 triliun untuk program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) yang di dalamnya terdapat anggaran Rp110 triliun untuk kebutuhan jaring pengaman sosial (social safety net) untuk menghambat penambahan tingkat kemiskinan.

Sementara itu, Ekonom Indef, Bhima Yudhistira, menilai pertumbuhan ekonomi Indonesia kan terkontraksi semakin dalam melihat penanganan pandemi yang belum optimal sehingga mempengaruhi kepercayaan konsumen untuk melakukan aktivitas belanja.

Dari sisi kinerja ekspor dipengaruhi oleh tekanan resesi yang terjadi di negara tujuan utama seperti Tiongkok meskipun perlahan sudah membuka aktivitas ekspor.

"Paling dekat saja pasar Asean ada Singapura yang minus 40% lebih pada kuartal II. Artinya permintaan ekspor secara global sedang melemah," ujar Bhima

Di dalam negeri sendiri masih lambatnya stimulus dicairkan membuat daya beli masyarakat semakin menurun. Yang perlu diperbaiki adalah kecepatan dari birokrasi untuk mempercepat realisasi stimulus dan konsep stimulusnya lebih tepat sasaran.

"Misalnya ada subsidi gaji bagi pekerja yang rentan PHK, begitu juga ada subsidi internet gratis untuk mendukung UMKM beralih ke digital. Butuh extraordinary stimulus," pungkas Bhima. (OL-6)

BERITA TERKAIT