16 July 2020, 18:09 WIB

Terawan Keluarkan Istilah Baru Kasus Probable, Apa Artinya?


Insi Nantika Jelita | Humaniora

Menteri Kesehatan (Menkes) Terawan Agus Putranto memperkenalkan istilah baru dalam penanganan kasus covid-19, yakni kasus probable. Lantas apa maksud istilah tersebut?

Dalam Keputusan Menkes (KMK) nomor HK.01.07/MENKES/413/2020 tentang Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Covid-19, disebutkan kasus probable adalah orang yang diyakini sebagai suspek dengan Infeksi Saluran Pernapasan Atas (ISPA) berat atau gagal nafas akibat aveoli paru-paru penuh cairan (ARDS) atau meninggal dengan gambaran klinis seperti covid-19 dan belum ada hasil pemeriksaan laboratorium Reverse transcription polymerase chain reaction (RT-PCR)

"Kasus probable intinya kasus dengan gejala klinis berat yang belum ada konfirmasi PCR. Jika meninggal tetap dihitung sebagai kasus covid-19," ujar ahli epidemiologi Universitas Indonesia (UI) Syahrizal Syarif, Kamis (16/7).

Baca juga: Hari Ini, Pasien Covid-19 yang Sembuh Capai 40.345 orang

Syahrizal mengatakan selama ini angka kematian dari orang dalam pemantauan dan pasien dalam pengawasan rata-rata 3,5 kali lebih besar dari angka kematian yang dilaporkan. Dengan mengikuti pedoman baru Kemenkes tersebut, lanjutnya, angka kematian kasus konfirmasi plus kasus kematian probable, maka laporan kematian covid-19 akan tinggi.

"Misalnya angka kematian tanggal 14 Juli ada 54 orang. Coba lihat angka kematian tanggal 15 Juli, kan sudah 84. Padahal jumlah kasus sama-sama 1500 lebih," kata Syahrizal.

Dalam Kepmenkes juga disebutkan pada kasus probable atau konfirmasi yang bergejala (simptomatik), untuk menemukan kontak erat periode dihitung dari 2 hari sebelum kasus timbul gejala dan hingga 14 hari setelah kasus timbul gejala.

Pada kasus konfirmasi yang tidak bergejala (asimptomatik), untuk menemukan kontak erat periode kontak dihitung dari 2 hari sebelum dan 14 hari setelah tanggal pengambilan spesimen kasus konfirmasi. (OL-14)

 

BERITA TERKAIT