15 July 2020, 16:48 WIB

Indonesia Dua Kali Suhu Terpanas pada Satu Dekade Terakhir


Ferdian Ananda Majni | Humaniora

INDONESIA alami dua kali siklus suhu terpanas dalam satu dekade terakhir yakni pada 2016 dan 2019 dengan peningkatan 0.84° C di atas suhu rata-rata tahunan selama 30-tahun atau periode 1981-2010.

"Emisi gas rumah kaca (GRK) terukur di Stasiun GAW BMKG Kototabang terus meningkat mencapai 408,2 ppm meskipun masih relatif lebih rendah dari GRK global, jumlah kejadian bencana hidrometeorologi terus bertambah mencapai 3362 kejadian," kata Deputi Bidang Klimatologi, BMKG, Herizal dalam keterangan tertulis, Rabu (15/7).

Penelusuran bukti perubahan iklim dilakukan oleh peneliti BMKG dengan menggunakan data suhu di Jakarta hasil pengamatan sejak zaman Belanda atau selama 150 tahun menunjukkan peningkatan suhu rata-rata yang signifikan di Jakarta yaitu 1,6°C dari 1866 hingga 2012.

Laju peningkatan ini cukup dapat dibandingkan dengan hasil analisis WMO, yaitu kenaikan suhu global sebesar 1.1°C terhadap zaman pra-industri yakni 1850-1900 sebagai garis dasar periode acuan perubahan iklim global.

"Suhu bumi yang terus memanas itu telah berdampak pada lingkungan, salah satunya memicu perubahan pola hujan dan peningkatan cuaca ekstrem," sebutnya.

Baca juga : Suhu Global 5 Tahun Kedepan, Cenderung 1º C di Atas Pra Industri

Di Indonesia, secara umum perubahan pola hujan itu ditandai oleh peningkatan hujan di daerah di utara katulistiwa yang menyebabkan iklimnya cenderung semakin basah. Sementara di selatan khatulistiwa cenderung kering.

"Namun di banyak tempat ditemukan bukti bahwa hujan dalam kategori ekstrem terus meningkat kejadiannya," terangnya.

Di Jakarta, kata Herizal dari data 130 tahun menunjukkan, sekalipun rata-rata curah hujan tahunan relatif sama, bahkan menurun namun frekuensi hujan ekstrem justru meningkat. Sekitar 10% intensitas hujan tertinggi di Jakarta atau di atas 100 mm per hari telah meningkat 14% akibat penambahan suhu per 1 derajat celcius.

"Tren cuaca ekstrem juga meningkat, ditandai dengan peningkatan frekuensi dan skala bencana hidrometeorologi," pungkasnya. (OL-2)

 

BERITA TERKAIT