13 July 2020, 18:48 WIB

Ini Cara Cegah Penularan Korona Lewat Udara di Gedung ber-AC


Insi Nantika Jelita | Humaniora

PENULARAN covid-19 dianggap berpotensi besar terjadi di gedung komersil ber-AC seperti perkantoran, mal, hotel, apartemen, dan rumah sakit, terutama yang menggunakan AC central. Hal itu disampaikan Praktisi Energi dan Perubahan Iklim Dicky Edwin Hindarto.

Di dalam bangunan tersebut, katanya, ada banyak orang yang tidak diketahui kondisi kesehatan sebenarnya.

"Tindakan pemindaian temperatur tubuh yang biasa dilakukan sebenarnya hanyalah langkah awal dalam meminimalisasi terjadinya penularan, untuk menghindari orang yang memiliki symptom pembawa virus masuk ke dalam gedung," kata Dicky dalam keterangan resminya, Jakarta, Senin (13/7).

Di dalam bangunan, lanjut Dicky, AC central adalah alat utama kenyamanan ruang yang berintikan sistem pendingin dan pengkondisian ruang yang terpusat. Udara dingin disirkulasikan melalui sistem saluran duct ke AHU (Air Handling Unit) yang kemudian didistribusikan kembali keseluruh ruangan.

"Sistem tata udara atau AC di dalam bangunan komersial adalah sistem yang paling memiliki potensi terhadap penularan," terang Senior Advisor untuk Kerja sama Indonesia-Jepang di Kemenko Perekonomian itu.

Dalam sistem AC central ini, ungkap Dicky, sebanyak 85%-90% adalah merupakan udara balik dari ruangan itu sendiri, sedang 10-15% merupakan udara segar dari luar ruangan dan semuanya dicampur oleh AHU untuk didistribusikan ke seluruh penjuru ruangan dan bangunan.

Baca juga: Ke Bioskop, Antara Takut dan Rindu

Lantas bagaimana teknik pencegahan infeksi covid-19 airborne atau lewat udara pada bangunan komersial?

Dicky menerangkan, teknik pertama ialah meminimalisasi penggunaan AC central, yang bisa dilakukan terutama pada wilayah umum seperti lobby, ruang pertemuan, atau pun ruang kerja yang memiliki jendela. Pemanfaatan ventilasi alami misalnya bisa diterapkan untuk ruang tunggu di rumah sakit atau di bank.

Lalu, pengelola usaha diminta mengurangi jam kerja dan jam buka untuk perkantoran dan pusat perbelanjaan, hal inu juga mengurangi risiko infeksi.

"Selain itu ada pembatasan jumlah individu atau penghuni gedung akan efektif hasilnya serta para penghuni harus menggunakan masker secara proper," jelas Dicky.

Bangunan komersial juga harus dilengkapi dengan sistem exhaust bangunan agar udara dalam terjadi pergantian dan sirkulasi sebanyak minimal 12 kali volume bangunan. Hal ini cukup dilakukan saat selesai jam kantor.

Dicky juga mengatakan, pengaturan suhu dan kelembaban pada kisaran 50-60% dan suhu ruang yang berkisar 24° Celcius. Untuk bangunan komersial non rumah sakit pengaturan suhu dan kelembaban yang mengurangi berkembang biaknya virus ini bisa segera dilakukan, namun untuk rumah sakit akan cenderung sedikit kurang nyaman untuk petugas medis berbaju APD lengkap.

"Pengaturan fresh air atau udara segar dari luar bangunan mutlak untuk kemudian dioptimalkan walau pun risikonya adalah meningkatnya penggunaan listrik. Di rumah sakit bahkan return air atau udara balik ke chiller harus dipastikan bukan berasal dari area yang kemungkinan ada pasien covid-19," pungkas Dicky. (A-2)

BERITA TERKAIT