13 July 2020, 18:05 WIB

Xinhua Klaim Tiongkok juga Punya 'Batik', Indonesia: Gak Ngaruh


Atikah Ishmah Winahyu | Internasional

MEDIA asal Tiongkok China Xinhua News, melalui akun Twitternya mengunggah sebuah video berdurasi 49 detik yang menampilkan seorang pengrajin sedang menggambar motif pada selembar kain.

Pada unggahan tersebut, China Xinhua News menuliskan keterangan, “Batik adalah kerajinan tradisional yang biasa dipakai oleh kelompok etnis di China. Orang-orang mewarnai kain dengan menggunakan lilin leleh dan alat seperti spatula kemudian memanaskannya untuk menghilangkan lilin. Lihatlah bagaimana kerajinan kuno berkembang di zaman modern.”

Unggahan ini sontak menimbulkan perdebatan di kalangan warganet.

Menanggapi hal tersebut, Direktur Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Hilmar Farid menilai penyebutan batik oleh China Xinhua News tidak memengaruhi pengakuan UNESCO terhadap batik sebagai warisan budaya takbenda Indonesia.

“Soal mengapa Xinhua News menggunakan istilah batik dan bukan istilah dalam bahasa China, saya tidak tahu. Penyebutan 'batik' oleh Xinhua News sama sekali tidak ada pengaruhnya terhadap pengakuan itu,” kata Hilmar kepada Media Indonesia, Senin (13/7).

Hilmar menjelaskan, batik dalam pengertian teknik tutup celup pada tekstil memang ada di berbagai negara, termasuk Tiongkok, India, dan Afrika. Namun, ada tiga unsur yang membedakan batik Indonesia yang diakui oleh UNESCO dengan yang ada di negara lain yaitu, teknik tutup celup, simbolisme, dan kebudayaan.

“Kita hanya mempersoalkan unsur pertama. Kalau simbolisme sudah pasti sangat berbeda batik Indonesia dengan tekstil yang menggunakan teknik tutup celup dari negara lain. Dari segi kebudayaan, yang menurut saya paling penting, ada perbedaan sangat mendasar antara batik Indonesia dengan tekstil dengan tutup celup yang lain seperti China,” tandasnya.(OL-4)

BERITA TERKAIT