13 July 2020, 14:52 WIB

Berdampak 9,7 Juta Anak, Pandemi Sebabkan Darurat Pendidikan


Insi Nantika Jelita | Internasional

BADAN amal dari Inggris Save the Children menyebut, pandemi covid-19 menyebabkan kondisi darurat pendidikan. Pasalnya, 9,7 juta anak-anak terdampak pada penutupan sekolah hingga tidak diketahui kapan kembali belajar seperti semula.

Mengutip data UNESCO, Save the Children mengatakan pada bulan April, 1,6 miliar atau 80% populasi siswa, keluar dari sekolah dan universitas karena pandemi tersebut.

"Untuk pertama kalinya dalam sejarah manusia, seluruh generasi anak-anak di seluruh dunia mengalami gangguan pendidikan," dalam sebuah laporan baru Save our Education yang dikutip dari AFP, akhir pekan lalu.

Adanya dampak ekonomi memaksa 90 hingga 117 juta anak-anak jatuh dalam kemiskinan, yang berefek langsung pada penerimaan sekolah.

Dengan banyaknya anak muda yang dituntut untuk bekerja atau anak perempuan yang dipaksa menikah dini untuk menghidupi keluarga mereka, bisa menyebabkan antara 7 hingga 9,7 juta anak putus sekolah secara permanen.

Pada saat yang sama, Save the Children memperingatkan masalah itu dapat menyisakan kekurangan 77 miliar dolar dalam anggaran pendidikan di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah pada akhir 2021.

Baca juga : WHO Laporkan Rekor Kasus Covid-19 Harian Global 230.370 Orang

"Sekitar 10 juta anak mungkin tidak pernah kembali ke sekolah. Ini adalah darurat pendidikan yang belum pernah terjadi sebelumnya dan pemerintah harus segera berinvestasi dalam belajar, "kata Kepala Eksekutif Save the Children Inger Ashing.

"Alih-alih, kita beresiko pemotongan anggaran yang tak tertandingi, kita akan melihat ketimpangan yang ada meledak antara si kaya dan si miskin serta antara anak laki-laki dan perempuan." tambahnya.

Badan amal itu mendesak pemerintah untuk menginvestasikan lebih banyak dana di balik rencana pendidikan global baru untuk membantu anak-anak kembali ke sekolah dan mendukung pembelajaran jarak jauh.

"Kami tahu anak-anak yang paling miskin dan paling terpinggirkan menderita kerugian terbesar, tanpa akses pembelajaran jarak jauh atau pendidikan apa pun selama setengah tahun akademik," kata Ashing. (AFP/OL-2)

 

BERITA TERKAIT