13 July 2020, 08:26 WIB

Pengembangan Sagu di Lahan Gambut Punya Dampak Positif


Denny Susanto | Nusantara

SAGU dapat menjadi bahan makanan pokok alternatif sebagai bentuk diversifikasi pangan dan memperkuat ketahanan pangan Indonesia di masa datang. Badan Restorasi Gambut (BRG) mulai mengembangkan tanaman sagu yang merupakan tanaman potensial dan endemik di lahan gambut.

"Pemerintah melalui BRG berupaya memaksimalkan pemanfaatan lahan gambut untuk meningkatkan ketahanan pangan yang masuk bagian program strategis nasional. Tidak hanya tanaman padi seperti program food estate yang dikembangkan di Kalimantan Tengah, tetapi melalui BRG juga mengembangkan tanaman sagu, tanaman endemik lahan gambut," kata Pelaksana Harian Ketua Tim Restorasi Gambut Daerah (TRGD) Kalimantan Selatan, Sayuti Enggok, Senin (13/7).

Pernyataan Sayutu Enggok merujuk pada pernyataan Prof Bintoro dari IPB University dalam webinar tentang potensi sagu di lahan gambut digelar oleh BRG. Fari penelitian disebutkan bahwa tanaman sagu ditemukan di berbagai daerah. Prof Bintoro dari IPB University menjelaskan bahwa bubur sagu menjadi makanan pokok penduduk asli dengan nama atau penyebutan yang berbeda, Kapurung di Sulawesi atau Papeda di Maluku/Papua. Di Kabupaten Meranti, Provinsi Riau, sagu tumbuh bebas di ekosistem gambut yang basah. Masyarakat terbiasa mengolah sagu menjadi berbagai jenis produk pangan olahan, seperti mie sagu, lempeng sagu, sagu rendang dan sempolat atau bubur sagu dengan tambahan udang, ikan, cumi atau kerang serta sayur pakis.         

Saat ini sagu juga dikembangkan menjadi biskuit, kue kering, sohun instan, dan pendamping air susu ibu.

"Sagu adalah salah satu bahan pangan lokal Indonesia berpotensi, yang perlu lebih dieksplorasi pengembangan dan kegunaannya karena memiliki kadar karbohidrat dan serat yang tinggi. Dengan kandungannya, sagu menjadi solusi pangan pengganti nasi, dan bermanfaat bagi mereka yang mengidap penyakit celiac atau penyakit autoimun yang terjadi akibat mengonsumsi gluten," tambah Prof Bintoro.


Di Indonesia, budidaya sagu dikembangkan di areal seluas total 5.539.637 hektare, tersebar di Maluku, Sulawesi, Kalimantan, Sumatra, Kepulauan Riau, Kepulauan Mentawai, Papua, dan Papua Barat. Namun produksi sagu tergolong masih rendah hanya 250.400 ton per tahun. Terdiri dari sagu rakyat sebanyak 241.000 ton per tahun, sagu perkebunan 6.000 ton per tahun, sagu rakyat Papua 400 ton per tahun, dan sagu perkebunan di Papua Barat sebanyak 3.000 ton per tahun.

Kepala Badan Restorasi Gambut Nazir Foead menyebut salah satu upaya merestorasi ekosistem gambut Indonesia dengan memanfaatkan potensi sagu. BRG secara intensif melakukan pendampingan pada masyarakat di kawasan gambut untuk membudidayakan sagu dan memproduki pangan olahan berbahan sagu.

baca juga: Memproduksi Pangan Mandiri untuk Jaga Ketahanan Pangan

BRG mendorong pembudidayaan tanaman sagu di lahan gambut yang rusak, sebab secara ekologis pemanfaatan lahan gambut untuk budidaya sagu memiliki dampak positif jangka pendek maupun jangka panjang. Selain bermanfaat untuk ekonomi, budidaya sagu diharapkan dapat membantu pencegahan kebakaran gambut.

"Secara ekologis, pemanfaatan lahan gambut untuk budidaya sagu sangatlah tepat karena sagu tumbuh pada lahan gambut yang lembab, basah, hingga tergenang menjadikannya sesuai dengan tujuan restorasi gambut. Yaitu mengembalikan fungsi hidrologi ekosistem gambut," kata Nazir Foead.

Sedangkan pada jangka panjang sagu dapat memberi keuntungan ekonomi karena dapat memperkuat ketahanan pangan nasional dan meningkatkan kualitas hidup dan sosial ekonomi masyarakat, terutama petani dan pengolah sagu. OL-3)

BERITA TERKAIT