12 July 2020, 03:30 WIB

Dari Jurnalis ke Film


Fathurrozak | Weekend

SEBAGAI produser, telah tiga film turut dilahirkan Edwin Nazir. Ketiga film itu ialah 9 Summers 10 Autumns (2013), Dreadout (2019) dan film yang meraih sejumlah penghargaan Hiruk Pikuk si Al-Kisah atau berjudul bahasa Inggris: The Science of Fictions (2019).

Hiruk Pikuk si Al-Kisah yang disutradarai Yosep Anggi Noen mendapat penghargaan special mentions dalam Locarno Film Festival di Swiss, tahun lalu.

Selain itu, film tersebut juga meraih silver hanoman award di Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) 14 yang juga berlangsung tahun lalu.

Dok. Wikipedia

Salah satu Film garapan Edwin Nazir, 9 Summers 10 Autumns yang di rilis tahun 2013.

 

Tampil di berbagai festival, semestinya pada tahun ini Hiruk Pikuk si Al-Kisah tayang di bioskop. Nahas, pandemi melanda dunia.

Meski filmnya termasuk yang tertunda penayangan, Edwin mengaku sudah terbiasa dengan kehidupan penuh kejutan yang ada di industri fi lm. Pria kelahiran Jakarta, 45 tahun itu mengungkapkan dinamika industri film pula yang membuatnya tertarik terjun ke dalamnya.

“Pada saat di film, ritme kerja dan situasinya menarik walau secara industri, fi lm laku atau tidak itu tidak ada yang bisa prediksi. Secara bisnis, seru. Secara pekerjaan, menarik. Intinya kan menceritakan sesuatu lewat audio visual,” tuturnya.

Sebelum menjadi produser film, Edwin telah lama berkecimpung di dunia media sebagai jurnalis. Ia sempat menjadi penyiar program berita Seputar Indonesia. “Setelah sekian tahun di tv, terpikir kalau bikin fi lm asyik juga. Tapi harus belajar lagi, termasuk dari buku-buku.

Sempat nyasar dikit jadi konsultan politik, ha ha” kelakar Edwin yang terjun ke fi lm sejak 2012. Selain sebagai tantangan baru, menjadi produser film dilihatnya memiliki kesamaan dengan profesi wartawan. “Saya di tv jadi wartawan juga tentang story telling. Sekarang juga sama, bentuknya lewat film,” tambah pria yang juga membidani hajat seni Indonesia Contemporary Art and Design (ICAD).

Kiprah Edwin di organisasi perfilman diawali dari Badan Perfilman Indonesia (BPI). Ia menjadi komisioner pada 2014- 2017.

Kini, mengepalai asosiasi produser, dianggapnya sebagai bentuk mewujudkan visi bersama para produser film di Indonesia. Ia menggantikan Fauzan Zidni, Ketua Aprofi sebelumnya.

“Intinya, bagaimana untuk bisa sama-sama dengan teman produser lain. Kebetulan saja saya yang ditugaskan jadi koor dinator, menjadi ketua. Bagaimana nantinya visi teman-teman produser bisa terwujud, jadi tugas saya hanya menjaga kepercayaan itu, untuk mewujudkan visi-misi da ri teman-teman produser di industri film,” pungkasnya. (Jek/M-1)

BERITA TERKAIT