12 July 2020, 05:25 WIB

FIKHI Ikrimah Wati Bantu Penyintas Kanker


Bus/M-4) | Weekend

FIKHI Ikrimah Wati yang akrab dipanggil Fikhi ialah seorang penyin tas kanker. Perempuan berusia 24 tahun ini, didiagnosis menderita kanker payudara stadium 3 bebe rapa saat setelah melahirkan anak pertamanya.

"Saya sedih banget, di (Rumah Sakit) Dharmais ketahuan kalau kankernya sudah membesar sekepalan tangan. Kalau menonton film ada tokoh yang kena kanker saja sedih banget kan, dan saya drop sekali waktu itu, untung banyak yang kasih saya dukungan," papar Fikhi.

Fikhi pun mengikuti saran dokter untuk melakukan kemoterapi. Namun, tanpa disadari, ternyata ia sedang hamil anak kedua dengan usia kandungan sekitar satu bulan. Mempertimbangkan kondisi Fikhi yang tengah hamil, dokter meminta nya memilih menggugurkan kan dungannya atau mempertahan kannya hingga anak keduanya lahir.

"Normalnya orang yang kanker itu 5 tahun enggak boleh hamil, dan saya pas radiasi nuklir, ketahuan ternyata sedang hamil anak kedua. Dokter akhirnya minta saya memilih anak atau nyawa saya," kenang ibu dua anak ini.

"Pas di rumah sakit, saya lihat orang-orang pada sedang program hamil, sedangkan saya yang dikasih hamil, masa digugurin. Akhirnya saya memilih menunda kemoterapi sampai anak saya lahir," imbuh Fikhi.

Di tengah cobaan yang ia terima, Fikhi tetap percaya bahwa Tuhan tetap akan memberikan kesempatan hidup bagi anak keduanya. Namun, ia terpaksa harus melahirkan bayinya dalam keadaan prematur karena kadar kanker yang ada pada tubuhnya semakin meningkat dan akan berisiko terhadap kandungannya jika ia masih tetap memaksakan hingga usia kehamilan sembilan bulan.

"Saya lahiran sesar, anak kedua saya prematur harus masuk NICU. Suami saya kelimpungan cari dana," cerita Fikhi menjelaskan kelahiran anak keduanya.

Tak berhenti sampai di situ, pasca melahirkan, Fikhi harus menerima berita buruk kembali karena kanker yang dideritannya telah menyebar hingga ke paruparu saat ia memilih menunda kemoterapi untuk menyelamatkan anak keduanya.

"Kankernya menyebar, saya jadi menderita dua kanker sekarang. Saat ini kemoterapi sudah selesai, sementara untuk yang di paru-paru, dokter bilang enggak menjamin akan bisa sembuh dan belum bisa dioperasi," ungkapnya.

Fikhi telah menjalani delapan kali kemoterapi. Selama menjalani proses kemoterapinya, Fikhi cukup aktif menjalin komunikasi dengan rekan-rekan sesama penyi tas kanker lainnya. Ia pun paham dengan permasalahan finansial yang kadang menjadi kendala kesembuhan dari rekanrekannya karena ia juga sempat mengalami hal yang sama.

"Saya ingin bantu teman-teman yang menderita kanker. Kemudian saya ingat kata dokter, 'kalau mau sembuh, banyak beramal'," ujar perempuan yang kini membuka usaha camilan tersebut.

Untuk merealisasikan hal itu, Fikhi pun berinisiatif membuka usaha dirumahnya sendiri. Ia memilih berjualan camilan dengan brandJajanan Bu Gundul.

Fikhi mengaku akan menyumbangkan setengah keuntungan usahanya untuk membantu para penderita kanker yang membutuhkan dengan menyalurkannya melalui platform crowdfunding kitabisa.com.

"Awalnya saya insecure karena gundul, buka kupluk di depan suami saja saya enggak berani, tapi berkat dukungan suami, kini saya mulai percaya diri," pungkas Fikhi.

BERITA TERKAIT