10 July 2020, 15:23 WIB

Tantangan Pengobatan Penderita ODHA di Tengah Pandemi Covid-19


Ferdian Ananda Majni | Humaniora

PADA masa pandemi saat ini, Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA) menjadi salah satu kelompok bersiko tinggi terhadap covid-19.

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung, Kementerian Kesehatan RI mengungkapkan dampak yang paling terasa adalah pengobatan terhadap HIV/AIDS.

“Dampak terhadap jumlah pengobatan terhadap HIV/AIDS, tidak semuanya menurun. Ada yang stabil, tapi ada juga yang menurun,” kata Wiendra pada dialog di Media Center Gugus Tugas Nasional, Jakarta, Kamis (9/7).

Ia menjelaskan penurunan terhadap jumlah pengobatan itu terjadi karena selama masa pandemi covid-19, obat antiretroviral (ARV) diberikan langsung untuk satu hingga tiga bulan. Namun, pemberian ARV juga harus memperhatikan ketersediaan obat yang ada di daerah masing-masing.

Selain mengganggu aktivitas pengobatan, lanjut Wiendra, covid-19 juga memberikan dampak terhadap ketersediaan obat pada April.

“Sempat terganggu pada April transisi Mei karena pada waktu itu lockdown juga di India, tetapi hanya terganggu sekitar satu minggu dan sampai hari ini obat sudah tersedia di semua layanan," tambahnya.

ARV adalah obat untuk memperlambat perkembangan virus HIV yang bekerja dengan cara menghilangkan unsur yang diperlukan oleh virus tersebut untuk menggandakan diri. selain itu, ARV juga mencegah virus HIV menghancurkan sel CD4 atau sel darah putih yang bertugas untuk menjaga kekebalan tubuh.

Diketahui, pemerintah melalui Kementerian Kesehatan menyediakan ARV secara gratis bagi ODHA. Wiendra menekankan bagi ODHA yang mengkonsumsi obat ARV secara rutin, tetap harus waspada dengan potensi penularan Covid-19.

“Jangan berpikir bahwa saya meminum obat ARV nanti saya tidak akab terkena COVID-19, karena buktinya COVID-19 bisa menyerang siapa saja. Kita tetap harus tetap waspada," imbuhnya.

Pada kesempatan yang sama, anggota Jaringan Indonesia Positif Timotius Hadi menyatakan, di Jakarta tidak terlalu banyak masalah pelayanan yang muncul selama masa pandemi ini. Namun, pada beberapa daerah lain dampak dari pandemi sangatlah terasa.

“Beberapa bulan lalu kita sempat ada kekosongan ARV dan sekarang mungkin sudah normal ya. Tapi di beberapa kabupaten seperti Kabupaten Sukabumi itu masih kosong," sebut.

Hadi juga menyampaikan tentang kekhawatiran bagi tentang keamanan bagi ODHA yang berada di daerah karena mereka harus berulang kali datang ke puskesmas untuk mengambil obat.

“Kalau di Jakarta enaknya bisa di multi month, resepnya dibikin dua bulan. Jadi satu kali datang bisa mendapatkan dua bulan. Tapi untuk teman-teman di daerah itu kesulitan," lanjut Hadi.

Terakhir, Hadi menyampaikan harapan-harapan dari Jaringan Indonesia Positif mengenai perlakuan terhadap ODHA terlebih pada masa pandemi Covid-19.

“Kami berharap seluruh elemen masyarakat menganggap bahwa ini adalah sebuah isu masalah kesehatan bersama. Jadi jangan lagi melihat orang itu terinfeksi, tapi bagaimana dia adalah tetap manusia yang memiliki hak yang setara dengan yang lainnya," pungkasnya. (X-7)

BERITA TERKAIT