10 July 2020, 07:05 WIB

Banyak Kasus Tak Bergejala, Epidemiolog Ingatkan Pentingnya PCR


Zubaedah Hanum | Humaniora

PRESIDEN Joko Widodo telah menetapkan target tes realtime Polymerase Chain Reaction (PCR) sebanyak 20.000 tes per hari untuk terus mengungkap jumlah penyebaran virus yang terjadi. Apalagi, kasus covid-19 di Tanah Air terus meningkat dan terus mencetak rekor baru.

Hingga Kamis (9/7), Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 (Gugus Tugas Nasional) mencatat penambahan kasus terkonfirmasi positif di Indonesia menjadi 70.736 orang, setelah ada penambahan sebanyak 2.657 orang. Data kasus tersebut diambil dari hasil uji pemeriksaan 23.823 spesimen pada Rabu (8/7), hingga total akumulasi yang telah diuji menjadi 992.069 spesimen.

"Uji pemeriksaan tersebut dilakukan menggunakan metode PCR di 161 laboratorium, Test Cepat Melokuler (TCM) di 115 laboratorium dan laboratorium jejaring (RT-PCR dan TCM) di 292 laboratorium," sebut juru bicara pemerintah untuk Covid-19 Achmad Yurianto.

Dokter Budiman Kharma, clinical epidemiologist yang juga pemerhati genomik dan molekuler menyatakan, sangat penting untuk dapat mengetahui apakah seseorang negatif dari penularan covid-19 saat memasuki era new normal. Pasalnya, tak semua kasus positif covid-19, menunjukkan gejala.

Dokter peneliti di The Jikei University School of Medicine, Tokyo, itu menjelaskan, ada dua sisi yang harus dilihat dalam melakukan penyebaran covid-19, yaitu orang yang terinfeksi harus melakukan isolasi diri. Lalu, orang yang merasa sehat juga perlu selalu waspada dan tetap menjaga protokol kesehatan karena bisa saja ternyata terinfeksi namun tidak memperlihatkan gejala apapun.

Oleh karena itu, sambungnya, PCR sebagai metode pengetesan yang paling akurat perlu dilakukan tidak hanya kepada orang yang sakit melainkan juga orang yang sehat. "Inilah paradigma yang perlu kita bangun untuk memutus penyebaran Covid-19, di saat masyarakat kembali sibuk dan beraktivitas setiap hari," sebut ," Budiman dalam keterangan tertulisnya yang diterima Media Indonesia, Jumat (10/7).

Ia menyayangkan situasi sebaliknya yang saat ini kini terjadi di Indonesia. Masyarakat lebih banyak mengandalkan rapid test untuk mendeteksi virus SARS-Cov-2 penyebab covid-19. Padahal, itu salah.

"Rapid test ini hanyalah pemeriksaan penyaring, guna mendeteksi keberadaan antibodi IgM dan IgG yang dihasilkan tubuh ketika terpapar virus corona. Itupun akan terdeteksi 2-4 minggu setelah virus masuk ke dalam tubuh," tegasnya.

Menurutnya, metode yang dinilai paling akurat untuk mendeteksi virus korona pada kondisi saat ini adalah dengan realtime PCR. Metode ini dapat menentukan bahwa seseorang terinfeksi virus dengan menemukan materi genetik virus tersebut.

"PCR adalah cara terbaik saat ini untuk menemukan materi genetik virusnya, sedangkan rapid test hanya menemukan antibodi terhadap virus. Ini adalah dua hal yang berbeda. Untuk itu, PCR dapat memberikan hasil akurat dalam waktu yang relatif tidak lama, maka ini menjadi metode pemeriksaan yang sangat reliable (diandalkan),” sebut Budiman.

Dengan mempertimbangkan besar dan tersebarnya populasi masyarakat Indonesia dibandingkan dengan jumlah pengetesan PCR yang ditargetkan pemerintah, kata Budiman, tentunya dibutuhkan bantuan dari seluruh pihak.  

"Agar akses terhadap pengetesan ini semakin luas dan menjangkau banyak orang. Selain itu, kapasitas laboratorium pengetesan PCR pun harus ditingkatkan agar dapat memberikan pelayanan dalam jumlah yang masif serta hasil yang cepat," pungkasnya.

Metode PCR
Salah satu perbedaan dari PCR swab dan rapid test adalah jenis sampel dan tingkat kecepatan. Rapid test hanya membutuhkan waktu 10-15 menit hingga hasil tes keluar sedangkan pemeriksaan menggunakan metode PCR swab membutuhkan waktu beberapa jam hingga beberapa hari.

Rapid test antibodi dilakukan dengan mengambil sampel darah untuk memeriksa virus menggunakan antibodi IgG dan IgM. Antibodi tersebut terbentuk dalam tubuh saat kita mengalami infeksi virus. Jadi, jika di dalam tubuh kita terjadi infeksi virus, maka jumlah IgG dan IgM dalam tubuh akan bertambah.

Namun, hasil tersebut bukanlah diagnosis pasti yang menggambarkan infeksi covid-19 dan pemeriksaan lanjutan wajib dilakukan dengan pemeriksaan PCR swab.

PCR swab dilakukan dengan mengambil sampel lendir dari dalam hidung maupun tenggorokan. Dua area tersebut dipilih karena menjadi tempat virus menggandakan dirinya. Pemeriksaan ini dinilai lebih akurat sebab virus korona akan menempel di bagian dalam hidung atau tenggorokan saat masuk ke dalam tubuh.

Hasil akhir dari pemeriksaan PCR swab ini nantinya akan benar-benar memperlihatkan keberadaan virus SARS-Cov-2, penyebab covid-19 di dalam tubuh seseorang. (Zhi)

BERITA TERKAIT