08 July 2020, 06:45 WIB

Logistik dan Pengiriman Pulihkan Kondisi


HILDA JULAIKA | Ekonomi

PELONGGARAN aturan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) yang mulai dilakukan pemerintah belum membuat denyut bisnis kembali seperti semula.

Beberapa sektor yang tetap tumbuh di masa pandemi, seperti e-commerce, bisnis penjualan makanan dan minuman yang membutuhkan jasa ekspedisi dan kurir mencoba memaksimalkan potensi bisnis pada semester II ini.

Ketua Umum Asosiasi Logistik Indonesia (ALI) Zaldy Ilham Masita mengatakan bisnis logistik telah mengalami penurunan yang sangat tajam, yakni hingga 80% selama masa pandemi. Pelonggaran yang ada belum sepenuhnya memulihkan kondisi bisnis.

"Sejak Januari sudah terasa, bahkan sejak Maret hampir tidak ada aktivitas. Tapi, sekarang mulai bergerak," ungkap Zaldy di Jakarta, kemarin.

General Manager PT Isuzu Astra Motor Indonesia (IAMI), Attias Asril, mengakui industri otomotif termasuk salah satu yang mengalami penurunan penjualan saat pandemi covid-19. Meski begitu, pasar kendaraan komersial masih cukup menjanjikan karena adanya pertumbuhan positif di sejumlah sektor bisnis, seperti logistik dan kurir.

"Kami yakin penjualan ken daraan komersial akan membaik walaupun untuk menyamai tahun lalu cukup berat," paparnya. Berdasarkan data Gaikindo per Mei 2020, secara tahunan Isuzu Giga tercatat tumbuh 3,6%, tetapi volume penjualannya minus 45,4%.

Adapun Isuzu Elf, market share-nya naik 1,5% tetapi pen jualannya minus 29,8%. Isuzu Traga membukukan mar ket share 9,9%, tetapi penjualannya minus 9,6%. Padahal, total pasar kendaraan komersial pada periode yang sama melemah minus 37,5%. Pada Mei 2019 tercatat penjualan sebanyak 97.484 unit dan pada Mei 2020 tercatat sebanyak 60.963 unit.

Bergeraknya sektor logistik atau kurir membuat pihaknya cukup optimistis penjualan kendaraan komersial akan membaik. Apalagi mereka membutuhkan kendaraan yang biaya operasionalnya hemat, yakni konsumsi BBM, layanan servis, dan suku cadang. Beratnya memulihkan kondisi juga dihadapi Garuda Indonesia. Maskapai itu saat ini lebih banyak tertolong pada bisnis angkutan barangnya.

Dirut Garuda Irfan Setiaputra mengatakan angkutan penumpang belum pulih. Hal ini terjadi lantaran masih di berlakukannya peraturan yang masih ketat di era new normal. "Sebelum covid-19 ini kita punya penerbangan sampai 16 penerbangan ke Denpasar, hampir penuh terisi. Hari ini hanya satu dan isinya 15-20 orang," ujarnya di Komisi X DPR RI.

Oleh karena itu, pihaknya tidak bisa memenuhi permintaan agar diterapkan lagi diskon atau harga tiket murah.

Stimulus jadi kunci

Pengamat ekonomi Universitas Indonesia (UI) Rizal E Halim menilai pemerintah pusat dan daerah perlu segera menekan dan memutus rantai penyebaran covid-19.

"Jika tidak, ekonomi kita akan semakin mengkhawatirkan. Industri akan tertekan biaya operasional dan belanja pegawai, produksi tertekan, akhirnya berujung pada PHK," katanya. Solusi optimal yang dapat diberikan pemerintah, yakni stimulus kepada dunia usaha berupa potongan pajak dan lainnya serta transfer tunai kepada masyarakat (cash transfer). "Kalau sektor usaha tertolong, sektor logistik juga akan berjalan kembali," jelasnya. (Ant/E-1)

BERITA TERKAIT