07 July 2020, 13:01 WIB

Fahira Idris: Kurva Melandai Jika RI Penuhi Target Test Usap


Dwi Tupani | Humaniora

TREN kenaikan kasus positif Covid-19 di dunia terus meningkat termasuk di Indonesia. Kenaikan ini selain dipicu oleh pelonggaran pembatasan sosial di berbagai negara juga karena banyak negara mulai meningkatkan jumlah tes massal virus corona (swab test / tes usap) sebagai salah satu cara untuk mencegah penyebaran virus lebih luas lagi. 

Di Indonesia sendiri, walau sudah terjadi peningkatan signifikan jumlah tes dalam tiga bulan terakhir ini, tetapi belum semua daerah memenuhi target yang ditetapkan WHO (minimal 1 orang per 1.000 penduduk setiap minggu atau 1.000 orang per satu juta penduduk). 

Di Indonesia, baru Jakarta yang mampu menggelar tes minimum di atas satu per seribu orang. Itulah kenapa secara umum WHO menyampaikan bahwa risiko penularan corona di Indonesia masih tinggi.

Anggota DPD RI yang juga Senator DKI Jakarta Fahira Idris mengungkapkan, salah satu fase yang harus ditempuh sebuah negara agar kurva corona bisa melandai adalah memenuhi target tes massal terutama dengan metode tes usap.

"Semakin banyak orang yang menjalani tes usap dan ditemukan semakin banyak yang positif akan membuat strategi penanggulangan corona akan semakin efektif dan efisien. Mereka yang terkonfirmasi positif secepat mungkin akan mendapatkan tindakan medis mulai isolasi mandiri di bawah pengawasan tenaga kesehatan atau mendapat perawatan di rumah sakit," ujar Fahira seperti dilansir keterangan resmi, Selasa (7/7).

Tes massal, lanjut Fahira, juga menjadi cara paling efektif untuk melakukan pelacakan kontak atau interaksi mereka yang positif sehingga besarnya gelombang penularan bisa dicegah secepat mungkin dan rantai penularan bisa dihentikan. 

Baca juga: RI Diprediksi Jadi Episentrum Covid-19 Terbesar Ketiga di Asia

Selain itu, tes massal juga menjadi metode paling efektif untuk melacak dan mencegah orang tanpa gejala (OTG) yang saat ini menjadi salah satu sumber penularan terbesar baik ke keluarga maupun lingkungan sekitar.

"Saya mengapresiasi kerja-kerja Gugus Tugas dan semua pemerintah daerah. Namun, kita punya tantangan besar yaitu memenuhi target tes massal yang ditetapkan WHO," ujarnya. "Kurva kita bisa melandai jika target tes korona kita minimal memenuhi target yang ditetapkan WHO, lebih baik lagi jika melebihi target. Berkaca dari pengalaman negara lain, kurva mereka bisa melandai setelah melakukan tes massal yang diikuti dengan tindakan medis dan melakukan pelacakan misalnya Tiongkok dan Korea Selatan," tambahnya.

Menurut Fahira, penetapan sebuah daerah dalam berbagai zona (hijau, kuning, merah, hitam) selama pandemi idealnya juga harus menjadikan jumlah tes korona sebagai salah satu parameter utama. 

Sebuah zona bisa dikatakan hijau (sudah tidak ada kasus atau infeksi virus korona) atau kuning (ada beberapa kasus Covid-19 dengan beberapa penularan lokal) jika daerah-daerah tersebut sebelumnya telah memenuhi target tes massal yang ditetapkan WHO.

Keberhasilan Tiongkok maupun Korea Selatan melandaikan kurva, sambung Fahira, karena di awal-awal penyebaran virus mereka melakukan tes massal yang masif ke warganya disertai tindakan medis dan pelacakan yang intensif. Setelah itu kurva mereka berhasil melandai baru kemudian mereka mengidentifikasi daerah-daerah mana yang sudah hijau, kuning, atau yang masih merah dan hitam.

"Jadi zona-zona ini ditentukan bukan karena belum atau tidak lagi ditemukan kasus tetapi setelah dilakukan tes massal yang masif sehingga akurasi penentuan zonanya benar-benar berdasarkan data hasil tes. Intinya adalah semakin cepat Pemerintah meningkatkan kapasitas tes korona secara massal, penanggulangan korona akan lebih efektif dan efisien dan kita bisa segera keluar dari kondisi yang tidak pasti ini," tukas Fahira. (A-2)

BERITA TERKAIT