07 July 2020, 08:50 WIB

PBB Peringatkan Eksploitasi Hewan Liar Tingkatkan Wabah


Haufan Hasyim Salengke | Internasional

PARA pakar PBB memperingatkan, penyakit zoonosis--yang melompat dari hewan ke manusia--semakin meningkat dan akan terus berlanjut jika tidak ada tindakan untuk melindungi satwa liar dan melestarikan lingkungan.

Mereka menyalahkan peningkatan penyakit seperti covid-19 karena tingginya permintaan protein hewani, praktik pertanian yang tidak berkelanjutan, dan perubahan iklim.

Penyakit zoonosis yang diabaikan membunuh 2 juta orang per tahun, kata mereka.

Baca juga: India Jadi Negara Tertinggi Ketiga Kasus Covid-19

"Ilmu pengetahuannya jelas bahwa jika kita terus mengeksploitasi satwa liar dan menghancurkan ekosistem kita, kita akan melihat aliran stabil penyakit ini melompat dari hewan ke manusia di tahun-tahun mendatang," ujar wakil sekretaris jenderal dan direktur eksekutif Program Lingkungan PBB, Inger Andersen.

"Untuk mencegah wabah di masa depan, kita harus menjadi lebih berhati-hati dalam melindungi lingkungan alam kita," imbuhnya.

Covid-19 diperkirakan akan mengakibatkan biaya ekonomi global US$9 triliun selama dua tahun.

Ebola, virus Nil Barat (West Nile), dan SARS juga semua penyakit zoonosis, yang berawal pada hewan, dan membuat lompatan ke manusia.

Tapi lompatan itu tidak otomatis. Hal itu didorong, menurut laporan Environment Programme PBB dan International Livestock Research Institute (ILRI), oleh degradasi lingkungan alam--misalnya melalui degradasi lahan, eksploitasi satwa liar, ekstraksi sumber daya, dan perubahan iklim. Ini mengubah cara hewan dan manusia berinteraksi.

"Pada abad terakhir, kita telah melihat setidaknya enam wabah utama virus korona baru," kata Andersen.

"Selama dua dekade terakhir dan sebelum covid-19, penyakit zoonosis menyebabkan kerusakan ekonomi US$100 miliar,” lanjutnya.

Dia mengatakan 2 juta orang di negara berpenghasilan rendah dan menengah meninggal setiap tahun akibat penyakit zoonosis endemik yang terabaikan--seperti antraks, tuberkulosis pada sapi, dan rabies.

"Ini kerap kali merupakan komunitas dengan masalah pembangunan yang kompleks, ketergantungan yang tinggi pada ternak dan kedekatan dengan satwa liar."

Produksi daging, misalnya, telah meningkat 260% dalam 50 tahun terakhir, kata Andersen.

"Kita telah mengintensifkan pertanian, memperluas infrastruktur, dan mengekstraksi sumber daya dengan mengorbankan ruang liar kita," jelasnya.

"Bendungan, irigasi, dan peternakan terhubung dengan 25% penyakit menular pada manusia. Perjalanan, transportasi, dan rantai pasokan makanan telah menghapus perbatasan dan jarak. Perubahan iklim telah berkontribusi pada penyebaran pathogen," terang Andersen.

Laporan ini menawarkan strategi pemerintah tentang bagaimana mencegah wabah di masa depan, seperti memberikan insentif pengelolaan lahan berkelanjutan, meningkatkan keanekaragaman hayati, dan berinvestasi dalam penelitian ilmiah. (BBC/OL-1)

BERITA TERKAIT