07 July 2020, 10:35 WIB

Geger Kalung Kayu Putih, Nasibnya Lebih Baik daripada Bajakah


Zubaedah Hanum | Humaniora

BANYAK riset herbal Indonesia tidak ada wujudnya. Kalung kayu putih (Eucalyptus) inovasi Kementerian Pertanian menjadi salah satu produk tanaman herbal yang nasibnya lebih baik daripada riset herbal-herbal lain.

Bagaimana tidak? Kalung yang dipercaya meredakan kesakitan akibat virus korona baru atau covid-19 ini sudah melalui uji laboratorium Balitbang Kementerian Pertanian dan mengantongi izin edar Badan Pengawas Obat dan Makanan (Badan POM) sebagai jamu.

Dengan bermodal hasil uji tersebut, kalung inovasi Kementan ini sudah diproduksi massal. Meskipun belum melalui uji klinis karena itu membutuhkan waktu sedikitnya 18 bulan.

Kementan resmi meluncurkan inovasi berbasis tanaman Eucalyptus itu sebagai hasil inovasi Balitbangtan dan telah berhasil mendapatkan hak patennya. Pada Mei 2020, Kementan menggandeng PT Eagle Indo Pharma untuk pengembangan dan produksinya secara massal.

Selanjutnya, untuk pengembangan penelitian menuju tahapan uji klinis kepada pasien yang terpapar virus Sars-Cov-2, Kementan telah menjajaki kerja sama dengan Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI).

Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Prof Ari Fahrial Syam mengatakan minyak kayu putih sudah digunakan sejak dahulu kala untuk berbagai masalah kesehatan. Untuk itu, riset mengenai khasiat produk berbahan Eucalyptus sebagai antivirus SARS-Cov-2 penyebab covid-19 saat ini perlu diseriusi.

Dukungan dari kalangan kesehatan ini adalah kabar baik. Kayu putih termasuk beruntung karena tahapan hilirisasi produknya berjalan cepat.

Baca juga : Inilah Khasiat Kalung Antivirus Menurut Kepala Balitbang Kementan

Baca juga : PB IDI Sambut Baik Kerja Sama Riset Eucalyptus dengan Kementan

Baca juga : Guru Besar Unhas Kalung Antivirus Mentan Butuh Pembuktian Ilmiah

Sebelum temuan kalung kayu putih, sudah banyak produk herbal yang yang dijadikan bahan riset tapi belum ada wujudnya. Yang cukup menghebohkan adalah hasil riset obat antikanker bajakah milik tiga pelajar SMAN 2 Palangka Raya pada 2019 lalu.

Temuan ilmiah itu menyita perhatian publik seusai kemenangan mereka di ajang World Invention Creativity Olympic (WICO) di Seoul, Korea Selatan, Juli 2019. Obat turun-temurun suku Dayak itu terbukti mengandung 40 zat penyembuh kanker.

Uji coba di Laboratorium Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Banjarmasin, Kalimantan Selatan, dilakukan pada tikus putih kecil yang mengidap tumor. Setelah diuji dengan memberikan minum air kayu bajakah tunggal selama dua pekan, ternyata tumor yang ada didalam tubuh tikus kecil itu hilang, bahkan tikus itu berkembang biak.

Sayangnya, penelitian itu baru pada tahap uji praklinis. Juga tidak ada info apakah proses penelitian itu memenuhi syarat standar internasional.

Kabar terakhir, Kepala Badan POM Penny K Lukito mengungkapkan, bajakah termasuk dalam produk-produk fitofarmaka, yang sedang dikembangkan. Selain bajakah, ada juga riset ekstrak seledri, binahong, daun kelor, dan daun gambir.

Baca juga : Khasiat Bajakah dari Kalimantan

Baca juga : Riset Obat Kanker Bajakah akan Diuji ke Manusia

Baca juga : Kemenkes akan Teliti Kandungan Bajakah untuk Kanker

Tahapan uji klinis
Untuk mengembangkan satu fitofarmaka tentu perlu ada studi ilmiah guna mengetahui senyawa apa yang terkandung dalam flora ataupun fauna.   Setelahnya, studi in vitro dilakukan, baik dari bioassay hingga
mekanisme aksi untuk mencari kandungan ekstrak ataupun senyawa tunggal yang ada pada tanaman.

Tahapan uji praklinis lalu dilakukan untuk mengetahui bagaimana aktivitas senyawa itu pada mahluk hidup. Pada tahap itu, hewan-hewan uji laboratorium seperti mencit hingga primata yang memang bebas dari
mikroorganisme patogen, memiliki reaksi imunitas yang baik, kepekaan pada suatu penyakit, dan performa atau anatomi tubuh yang baik yang berperan.

Saat uji praklinis dilakukan, proses trial and error terjadi. Kemampuan laboratorium diuji untuk mampu memastikan senyawa calon obat tadi aman untuk lolos ke tahap uji klinis, yang akan diujikan pada
manusia.

Peneliti Centre for Drug Discovery and Development (CDDD) di Pusat Penelitian Bioteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Mega Ferdina Warsito mengungkapkan, butuh waktu rata-rata pengembangan obat memang plus minus sampai 10 tahun.

Sejauh ini baru ada 18 fitofarmaka yang kelihatan wujudnya di Indonesia. Perlu komitmen semua pihak untuk mengakselerasi perkembangannya di Indonesia mulai dari komitmen pendanaan, regulasi, regulasi Badan POM, regulasi dari Kementerian Kesehatan untuk uji trial semua mempengaruhi. (Ant/H-2)

BERITA TERKAIT