07 July 2020, 08:20 WIB

Menkeu : Burden Sharing Telah Diterapkan di Banyak Negara


Despian Nur Hidayat | Ekonomi

MENTERI Keuangan Sri Mulyani Indrawati menegaskan bahwa skema burden sharing atau pembagian beban bukanlah sesuatu hal yang baru.

Menurutnya skema ini sudah diterapkan di berbagai negara untuk mengelola dampak covid-19 terhadap perekonomian.

"Mulai Chili, Hungaria, India, Korea, Meksiko, Polandia, Rumania, Filipina, Afrika Selatan, Thailand dan Turki.  Itu adalah negara emerging market yang juga melakukan apa yang disebut burden sharing atau bank sentralnya membeli bonds dari pemerintah secara langsung," ungkapnya dalam video conference, Senin (6/7).

Lebih lanjut, perempuan yang akrab disapa Ani tersebut mengatakan bahwa di beberapa negara emerging market termasuk Indonesia penerapan burden sharing dilakukakan  secara hati-hati.

Beberapa negara maju seperti Amerika, Eropa dan Jepang telah melakukan kebijakan Quantitative Easing (QE) dan monetisasi utang pemerintah secara advance atau lebih maju.

"Karena kami paham bahwa situasi yang dilakukan emerging market berbeda dengan kondisi negara yang sudah sangat maju sepeti Amerika, Eropa dan Jepang," pungkas Ani.


Hal senada dikemukakan Kepala Ekonom Permatabank Josua Pardede.  Oleh karena itu  Josua mengatakan agak berlebihan perspektif investor asing terkait BI yang  terlampau jauh dalam pembiayaan APBN.

Menurutnya sebagian besar bank sentral di berbagai negara juga turut berkontribusi dalam pembiayaan defisit fiskal seluruh negara di dunia yang cenderung meningkat tajam karena covid-19.

"Bahkan, sebagian besar bank sentral di negara maju dan berkembang juga ikut menanggung beban untuk membiayai defisit fiskal," sambung Josua.

Dalam skema burden sharing ini, Josua menerangkan bahwa BI akan mengoptimalkan likuiditas dalam neraca keuangan saat ini dan tentunya disesuaikan dengan kemampuan neraca BI.

Selain itu, bank sentral dan pemerintah menunjukkan bahwa kedua otoritas tersebut melakukan koordinasi yang kuat dalam rangka memberikan stimulus bagi perekonomian sehingga dapat mengakselerasi pemulihan ekonomi nasional.

"Dengan koordinasi yang sangat baik tersebut semestinya memberikan sentimen positif karena kalau pemulihan ekonomi dapat terwujud tentu stabilitas di pasar keuangan pun akan tetap terjaga," pungkasnya. (E-1)

BERITA TERKAIT