07 July 2020, 05:50 WIB

Harapan Siswa Berusia Muda Kandas


Putri Anisa Yuliani | Megapolitan

PUPUS sudah harapan Lisa yang berusia 12 tahun 5 bulan untuk bisa bersekolah di sekolah impiannya, SMPN 216 Jakarta Pusat.

Kakak Lisa, Nidan, tak habis pikir mengapa bisa demikian sebab sekolah itu hanya berjarak 800 meter dari rumahnya di Kelurahan Kenari.

Nidan harus sabar meredam emosi adiknya lantaran gagal masuk ke sekolah itu karena faktor usia masih muda.

Tragisnya, sang adik semata wayangnya itu juga gagal masuk ke sekolah lain yang diincar, yakni SMPN 8 Jakarta, karena faktor yang sama, yakni usia.

Tidak hanya jalur zonasi, Nidan sudah membantu adiknya mendaftar ke jalur afirmasi dan prestasi dan lagi-lagi gagal karena terpentok oleh akreditasi sekolah adiknya yang biasa-biasa saja.

Nidan mencoba lagi jalur zonasi bina RW, tetapi kembali gagal karena tempat tinggalnya berbeda RW dengan SMPN 216. Nidan mengatakan, jika seleksi jalur zonasi berdasarkan jarak dan nilai, mungkin ia ikhlas adiknya gagal masuk sekolah negeri.

“Kami sudah persiapkan Lisa agar diterima. Selain jarak rumah dekat, kami juga memasukkan dia bimbel. Nilainya bagus-bagus, rata-rata 85, tapi kalah sama yang tua,” ungkap Nidan dengan suara serak menahan perasaannya.

Nidan menyebut faktor usia sebagai parameter seleksi juga memiliki celah. Sebabnya ia mengetahui banyak anak dari kelurahan jauh seperti Kelurahan Utan Kayu Selatan dan Kelurahan Jatinegara yang sudah masuk ke wilayah Jakarta Timur justru diterima di SMPN 216.

“Jelas enggak adil. Bukan cuma beda kelurahan, tapi sudah beda wilayah, tapi bisa diterima karena usia mendekati 13 tahun,” ujar Nidan.

Jika semua pintu negeri sudah tertutup, Nidan menyarankan Lisa masuk MTs negeri. Adiknya tidak masalah, tetapi orang tuanya mungkin kewalahan menyekolahkan di sekolah swasta.

“Rata-rata sekolah swasta di Jakarta Pusat tergolong sekolah-sekolah mahal dengan uang pangkal mencapai belasan juta rupiah,” imbuhnya sedih. (Putri Anisa Yuliani/J-2)

BERITA TERKAIT