07 July 2020, 05:40 WIB

Saatnya Pemprov DKI Subsidi Sekolah Swasta


Putri Anisa Yuliani | Megapolitan

SUDAH saatnya Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memberikan akses pendidikan gratis kepada sejumlah sekolah swasta. Kebijakan tersebut bisa menjadi solusi untuk meredam polemik PPDB (penerimaan peserta didik baru).

Usul itu disampaikan Sekretaris Komisi C DPRD DKI Jakarta Johnny Simanjuntak menyikapi kekisruhan PPDB tahun ini. Menurutnya, puluhan ribu siswa memperebutkan kursi negeri karena biaya pendidikan swasta mahal.

Terlebih, saat ini Jakarta dilanda pandemi covid-19 yang membuat kondisi ekonomi rakyat terjepit. Sementara itu, mendaftar di sekolah swasta dikenai biaya dan uang pangkal, serta biaya pendidikan bulanan. “Nilainya bisa jutaan hingga belasan juta rupiah tergantung fasilitas yang dimiliki sekolah tersebut,” sebutnya, kemarin.

Politikus PDIP itu berpandangan sekolah swasta banyak menerima siswa dari keluarga ekonomi lemah. *Disdik DKI diminta jangan keasyikan mengurusi sekolah negeri, sementara sekolah swasta dianaktirikan. Johnny menyatakan adanya kebijakan pendaftaran gratis masuk sekolah swasta sangat dinanti masyarakat.

“Lihatlah di lapangan, jangankan membayar uang pangkal jutaan rupiah, untuk makan sehari-hari saja sudah menunggu uluran tangan pemerintah berupa bansos,” kata Johnny.

Memperlakukan sama merupakan amanat konstitusi agar negara menjalankan keadilan yaag diimplementasikan di bidang pendidikan. Ia memberi contoh langkah yang diambil Pemerintah Kota Semarang. Tahun ini, Pemkot Semarang dengan anggaran yang lebih kecil daripada Jakarta mampu memberikan program pendaf taran gratis ke sekolah swasta di jenjang TK, SD, dan SMP.


RIP pendidikan

Sebagai bentuk kekecewaan terhadap kacaunya pelaksanaan PPDB DKI, sejumlah orang tua murid di Jakarta beraksi menum pahkan rasa kecewa mereka, kemarin. Mereka berunjuk rasa dengan memasang karangan bunga tanda berduka di depan Balai Kota DKI yang merupakan kantor Gubernur DKI Anies Baswedan di Jl Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat.

Pengamatan Media Indonesia, para orang tua juga membentangkan sejumlah spanduk. Tulisannya antara lain, ‘Terima kasih Pak Gubernur dan Ibu Disdik, Anda sudah menghilangkan generasi yang cerdas dengan kebijakan cerdas’. Selain itu, ada tulisan ‘RIP pendidikan di Indonesia’ dengan mengatasnamakan anakanak lulusan angkatan yang kecewa.

Agung yang mewakili orang tua murid yang hadir mengata kan karangan bunga berikut pembentangan spanduk merupakan protes lanjutan karena aksi mereka sebelumnya tidak digubris Gubernur DKI Anies Baswedan. *Dengan linangan air mata, ia menyatakan nasib putra-putri peserta PPDB TA 2020/2021 belum jelas diterima atau tidak. “Kami memberikan karangan bunga ini tanda berdukacita karena anak kami siswa angkatan TA 2020/2021 yang notabene angkatan covid-19 terpaksa putus sekolah satu tahun ini,” tuturnya. (Put/Ssr/J-2)

BERITA TERKAIT