06 July 2020, 21:50 WIB

Pembelajaran Jarak Jauh Dipermanenkan? Ini Kata Kemendikbud


Zubaedah Hanum | Humaniora

KEMENTERIAN Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) memberikan klarifikasi atas ramainya wacana mempermanenkan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) pascapandemi, seusai Rapat Kerja dengan DPR pada Kamis (2/7) lalu. Yang dimaksud adalah mempermanenkan platform teknologi, bukan metode PJJ.

"Yang akan permanen adalah tersedianya berbagai platform teknologi belajar PJJ, termasuk yang bersifat daring dan luring seperti Rumah Belajar, yang akan terus dilangsungkan guna mendukung siswa dan guru dalam proses belajar mengajar,” kata Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kemendikbud, Iwan Syahril dalam rilisnya, Senin (6/7) malam.

Iwan menjelaskan, berbagai platform PJJ baik akan dimanfaatkan baik yang bersifat daring maupun luring untuk mendukung siswa dan guru dalam proses belajar mengajar selama masa pandemi Coronavirus Disease (covid-19).

"Penggunaan platform ini tidak diwajibkan, tetapi akan dibuat tersedia. Adapun metode pembelajaran yang diberikan kepada siswa akan tetap ditentukan berdasarkan kategori zona pandemi," cetus Iwan.  
PJJ, tegas Iwan, hanya akan dilakukan pada satuan pendidikan di zona kuning, oranye, serta merah, dan tidak akan permanen.

Merujuk Surat Keputusan Bersama Empat Kementerian pada Juni 2020, satuan pendidikan yang berada pada zona hijau dan memenuhi berbagai persyaratan ketat lainnya dapat melaksanakan metode pembelajaran secara tatap muka. Jumlah daerah yang melakukan pembelajaran tatap muka akan terus meningkat seiring dengan waktu.

Hybrid
Pada bagian lain, Iwan menjelaskan soal pembelajaran dengan model kombinasi (hybrid) yang dilontarkan Mendikbud Nadiem Anwar Makarim kepada DPR.

Melalui pembelajaran dengan model kombinasi, guru dan siswa akan terus melanjutkan penerapan teknologi yang dikombinasikan dengan tatap muka sebagai metode pembelajaran terpadu. Dengan begitu, alat bantu pembelajaran tidak hanya berupa buku teks saja, namun berbagai platform teknologi yang telah dimanfaatkan dalam PJJ selama pandemi.

Model hybrid, menurut Iwan, sangat bermanfaat menciptakan Sumber Daya Manusia (SDM) yang unggul dan inovatif dalam menghadapi revolusi industri 4.0. “Saya yakin model pembelajaran berbasis kombinasi pembelajaran ini akan terbukti efektif meningkatkan kemampuan dan kompetensi siswa dalam bersaing di dunia global saat ini,” jelas Iwan.

Ia menegaskan, peran guru tidak akan tergantikan teknologi dalam pembelajaran. Namun, untuk mengakselerasi kompetensi siswa peran teknologi akan sangat mendukung. "Teknologi hanyalah alat," pungkasnya. (RO/H-2)

BERITA TERKAIT