06 July 2020, 19:40 WIB

Perempuan Kurang Melek Teknologi


Ihfa Firdausya | Humaniora

Penelitian oleh lembaga We Are Social tahun 2020 menunjukkan kecenderungan perempuan yang tidak terlalu aktif dalam mengakses informasi melalui internet. Hal ini disampaikan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Bintang Puspayoga.

Menteri Bintang juga mengutip Statistik Telekomunikasi Indonesia BPS tahun 2018. Disebutkan bahwa walaupun penguasaan perempuan terhadap teknologi informasi telah mengalami peningkatan dari tahun ke tahun, persentasenya tetap lebih rendah dibandingkan laki-laki.

"Rasio pengguna internet perempuan dibandingkan laki-laki adalah sebanyak 46,83% berbanding 53,17%. Selain itu, perempuan yang menggunakan komputer sebanyak 18,05% sementara laki-laki 20,15%," ujarnya dalam webinar yang diselenggarakan Kongres Wanita Indonesia (Kowani) dengan tema "Perempuan Melek Digital di Era Pandemi Covid-19", Senin (6/7).

Berdasarkan Riset Toward Gender Equality Online oleh Google tahun 2019, lanjutnya, terdapat beberapa alasan mengapa ada kesenjangan terkait teknologi informasi antara perempuan dan laki-laki.

Pertama adalah akses perempuan yang terbatas terhadap internet. Disebutkan bahwa banyak perempuan yang tidak memiliki akses terhadap internet.

"Baik karena tempat tinggal dengan koneksi yang tidak memadai, mobilitas yang sulit, dan tuntutan peran domestik yang menyita sebagian besar waktu para perempuan," tutur Menteri Bintang.

Kedua adalah konten dan komunitas. Perempuan disebut mengalami kesulitan untuk menemukan, membuat, dan membagikan konten dan komunitas yang relevan dengan diri mereka.

Selanjutnya adalah perihal privasi. Dalam hal ini, bebagai fitur di internet yang mengharuskan berbagi informasi personal membuat banyak perempuan tidak nyaman.

Terakhir adalah keamanan. Perempuan merasa tidak aman untuk mengakses internet karena pernah mengalami atau melihat perempuan lainnya menjadi korban kekerasan online.

"Perlu kita pahami bersama bahwa kesenjangan dalam memanfaatkan teknologi informasi sudah terjadi sebelum pandemi covid-19. Padahal, krisis akan memperdalam kesenjangan yang sudah ada," jelas Bintang.

"Dalam tatanan normal baru, kebutuhan pemanfaatan teknologi informasi akan semakin besar. Untuk itu, perempuan harus melek digital," imbuhnya.

Baca juga: RUU Masyarakat Adat Harus Lindungi Perempuan dari Kapitalisasi

Sebagai ibu, dia mencontohkan, perempuan wajib melek digital sehingga dapat melindungi anak dari bahaya internet.

"Sekaligus memberi manfaat terbaik dari internet untuk pendidikan serta tumbuh kembang anak, termasuk dalam belajar jarak jauh di rumah," pungkasnya.

Menurut Direktur Tata Kelola Aplikasi Informatika Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Mariam Barata, pemanfaatan internet dapat mendukung ekonomi perempuan.

"Sebagai ibu rumah tangga kita bisa menambah penghasilan. Sebagai contoh di masa pandemi ini, banyak sekali ibu-ibu yang jualan. Entah berjualan jus, makanan matang, maupun mentah," katanya pada kesempatan yang sama.

"Jadi sekarang nilai positif dari penggunaan internet sudah tampak di masa pandemi ini. Sekarang ibu-ibu sudah lebih kreatif untuk menggunakan internet untuk menghasilkan pendapatan," imbuhnya.

Oleh karena itu, Ketua Umum Kowani Giwo Rubianto Wiyogo mengajak para perempuan untuk siap memasuki era smart society.

"Mau tidak mau kita harus menyesuaikan diri, baik berkegiatan, berkomunikasi, dengan menggunakan alat komunikasi digital berupa handphone, laptop, komputer, dsb," katanya.

"Kita perempuan harus cerdas teknologi, kita sebagai ibu bangsa sekaligus sebagai pendidik yang pertama dan utama bagi anak-anak kita," pungkasnya. (H-3)

BERITA TERKAIT