06 July 2020, 19:00 WIB

Awali Pekan Kedua Juli, IHSG dan Rupiah Menguat


Suryani Wandari Putri Pertiwi | Ekonomi

INDEKS Harga Saham Gabungan (IHSG) pada penutupan perdagangan saham Senin (6/7) ditutup pada posisi 4,988.87 atau naik 15,07 poin yakni 0,30%.

Pada pembukaan perdagangan di Bursa Efek Indonesia(BEI), pagi tadi IHSG berada di level 4,996.39, naik 22.60 poin atau 0.,45%. 

Meski turun tipis, sepanjang pergerakan hari ini IHSG bergerak perkasa di zona hijau. Sebelumnya di akhir perdagangan sesi satu selesai, IHSG naik 21,45 poin atau 0,43% ke 4.995,25.

Sebanyak 221 saham menguat, 197 saham melemah, dan 145 saham stagnan. Hari ini, IHSG sempat mencapai rekor tertinggi di 5.009 dan terendah 4.973. Transaksi perdagangan senilai Rp6,5 triliun.

Sektor pertambangan menjadi penyumbang kenaikan indeks tertinggi sebesar 1,45% disusul pertanian 0,9%. Sementara sektor saham yang melemah di antaranya properti sebesar 0,56%.

Menurut Direktur Anugerah Mega Investama, Hans Kwee, hal ini ada kaitannya dengan aktivitas bisnis Tiongkok yang membaik.

"Aktifitas Bisnis Tiongkok membaik terutama akibat permintaan dalam negeri yang membaik ditengah permintaan luar negeri yang lemah. Ini jadi sentiment positif pasar," kata Hans, Senin (6/7).

Baca juga: BI: Keyakinan Konsumen Terhadap Kondisi Ekonomi Masih Baik

Sementara itu, kurs rupiah rupanya juga mengalami penguatan mencapai Rp14.490 per dolar Amerika Serikat (AS) pada akhir  perdagangan Senin (6/7). Kurs dolar menguat 0,23% dari akhir pekan lalu yang ada di Rp14.523 per dolar AS. Sebelumnya rupiah dibuka menguat ke level Rp 14.465 per dolas AS.

Menurut Ekonom Bank Permata Josua Pardede, rupiah hari ini cenderung mengalami penguatan tipis seiring dengan pelemahan tipis Dollar terhadap mata uang utama di hari Jumat. 

"Ke depannya, dengan permintaan dolar yang mungkin sudah mereda, tekanan untuk satu minggu ke depan cenderung berkurang," kata Josua.

Namun ia juga mengatakan perlu adanya kewaspadaan terhadap tensi antara AS Tiongkok serta kenaikan kasu COVID-19 di AS, yang berpotensi mendorong sentimen risk-off di pasar. 

"Rupiah diperkirakan bergerak di kisaran 14.450-14.550 pada pekan minggu ini," katanya.

Mayoritas mata uang Asia bergerak menguat. Yuan Tiongkok memimpin penguatan mata uang Asia terhadap dolar AS dengan kenaikan 0,46%, disusul pesso Filipina yang menguat 0,39%, won Korea menguat 0,24%, dolar Taiwan menguat 0,22%, baht Thailand menguat 0,10%, dolar Singapura menguat 0,09%, ringgit Malaysia menguat 0,06% dan dolar Hong Kong menguat 0,004% terhadap dolar AS. (A-2)

BERITA TERKAIT