06 July 2020, 10:08 WIB

Daerah Istimewa Yogyakarta Kembali Catatkan Inflasi Rendah


Agus Utantoro | Nusantara

DAERAH Istimewa Yogyakarta pada Juni 2020 ini mencatatkan inflasi yang rendah, yakni 0,08% (mtm). Dengan realisasi tersebut maka akumulasi laju  inflasi DIY sepanjang 2020 hingga bulan Juni menjadi sebesar 0,79% (ytd) atau 1,95% (yoy).

Kepala Perwakilan Bank Indonesia  Daerah Istimewa Yogyakarta Hilman  Tisnawan, Senin (6/7) mengungkapkan capaian inflasi tahunan DIY ini  tidak berbeda secara signifikan jika dibandingkan dengan inflasi nasional, yaitu 1,96% (yoy), namun masih berada pada batas bawah sasaran  yang ditetapkan, yakni 3,0%±1% (yoy).

"Inflasi DIY pada Juni 2020 terutama disebabkan oleh inflasi kelompok  harga pangan bergejolak (volatile food). Inflasi inti (core inflation)  relatif rendah, sementara kelompok harga yang diatur pemerintah (administered prices) mengalami deflasi," ujarnya, Senin (6/7).

Menurut dia, deflasi administered prices terjadi seiring dengan penurunan permintaan terhadap komoditas angkutan udara. Ia menyebutkan tarif angkutan udara pada Juni 2020 mengalami deflasi 15,09% (mtm), pasca peningkatan kapasitas angkut dari 50% menjadi 70% sejak awal Juni 2020 sesuai Surat Edaran Dirjen Perhubungan Udara No. 30/2020.

Dikatakan, adanya SE Dirjen Perhubungan Udara itu, animo masyarakat untuk bepergian via jalur udara masih terbatas. Hal ini menyebabkan maskapai menurunkan tarif angkutan udara setelah pada bulan sebelumnya meningkat 15,55% (mtm).

Sementara itu tekanan inflasi inti cenderung rendah, sentimen inflasi kelompok inti terutama berasal dari harga telepon seluler dan gula pasir yang masing-masing menurun 1,22% (mtm) dan 2,66% (mtm). Penurunan harga telepon seluler kerap terjadi pada pertengahan tahun, yang mengikuti pola siklikalnya. Sementara itu, berdasarkan PIHPS, harga gula pasir sudah mulai bergerak menurun walaupun tercatat masih berada di atas HET, yakni di level Rp14.250/kg pada akhir Juni 2020. 

Realisasi impor gula pasir telah masuk ke Indonesia sejak April 2020, sehingga TPID mampu melakukan operasi pasar maupun memasuk stok untuk stabilitas harga. Diperkirakan Juli 2020 telah memasuki musim giling tebu, sehingga harga gula pasir masih akan turun pada beberapa bulan ke depan.

Permintaan yang meningkat pasca perayaan Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Idul Fitri serta pasokan komoditas bawang merah yang terbatas mendorong tekanan inflasi pada komoditas harga pangan bergejolak. Pada Juni 2020, masih terjadi kenaikan harga untuk komoditas daging ayam ras. 

"Pemotongan produksi DOC akibat oversupply pada awal penyebaran pandemi COVID-19 menyebabkan pasokan ayam pada Juni 2020 mulai stabil," tambahnya. 

Selain itu, lanjutnya, permintaan akan komoditas daging ayam  ras juga mengalami peningkatan pasca perayaan Idul Fitri. Berdasarkan pencatatan PIHPS, harga daging ayam ras di DIY pada akhir Juni 2020 mencapai Rp38.000/kg, meningkat 14,3% (mtm) jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya.

baca juga: Purwakarta Mulai Giatkan Tanam Sayuran

Dijelaskan, untuk komoditas bawang merah, terjadi lonjakan harga akibat pasokan yang terbatas pada beberapa bulan terakhir. Peningkatan tersebut, imbuhnya disebabkan oleh meningkatnya harga bibit bawang merah sehingga HPP turut mengalami peningkatan. TPID memprediksikan panen raya akan meningkatkan suplai pasokan kepada masyarakat, sehingga dapat mendorong penurunan harga komoditas secara berangsur-angsur. Panen raya bawang merah di Kabupaten Bantul diproyeksikan terjadi pada Juni 2020. (OL-3)


 

BERITA TERKAIT