06 July 2020, 06:30 WIB

Orientasi Siswa Berbasis Virtual


Azwar Anas, Guru Sekolah Sukma Bangsa Lhokseumawe | Opini

TAHUN baru selalu identik dengan masa orientasi siswa yang dilakukan pada awal masa sekolah, dengan tujuan untuk memperkenalkan lingkungan sekolah bagi siswa baru. Hal itu didasarkan pada Permendikbud Nomor 18 Tahun 2016 tentang Pengenalan Lingkungan Sekolah bagi Siswa Baru.

Dalam peraturan menteri tersebut dijelaskan bahwa pengenalan lingkungan sekolah adalah kegiatan pertama masuk sekolah untuk pengenalan program, sarana, dan prasarana sekolah, cara belajar, penanaman konsep pengenalan diri, dan pembinaan awal kultur sekolah. Pengenalan lingkungan sekolah bagi siswa atau biasanya disebut dengan masa orientasi siswa umumnya bertujuan untuk membantu siswa beradaptasi dengan lingkungan sekolah baru serta menumbuhkan interaksi positif antarsiswa dan warga sekolah lainnya.

Namun tahun ini sedikit berbeda dan agaknya masa orientasi sebagaimana biasa tak dapat dijalankan. Tahun ajaran baru yang seyogianya dimulai pada pertengahan Juli mendatang masih begitu abu-abu akan bagaimana pelaksanaannya. Meskipun tatanan kenormalan baru dalam pendidikan akhir-akhir ini kian digaungkan, pemerintah dan masyarakat tetap saja merasa dilema antara kembali ke sekolah atau melanjutkan learn from home yang telah digagas Kemendikbud sejak Maret lalu dengan pertimbangan segala risiko yang kemudian harus ditanggung. Hal itu berdampak besar pada perencanaan pelaksanaan pendidikan ke depan, termasuk berbagai program sekolah baik dalam pemantapan akademik maupun pengembangan karakter peserta didik seperti kegiatan orientasi siswa.

Orientasi saat pandemi

Imron (2001) mengemukakan bahwa orientasi diartikan sebagai perkenalan, perkenalan ini meliputi lingkung­an fisik dan sosial sekolah. Lingkungan fisik sekolah di antaranya termasuk sarana dan prasarana yang tersedia serta fasilitas-fasilitas lain yang ada di sekolah. Adapun lingkungan sosial sekolah meliputi kepala sekolah, guru, tenaga kependidikan selain guru, teman seangkatan, hingga peserta didik senior di sekolah. Karena itu, orientasi ini menjadi amat penting untuk dilaksanakan.

Selain sebagai wadah untuk beradaptasi dengan lingkung­an sekolah, orientasi juga menjadi sarana awal bagi siswa untuk mengenali potensi diri dan juga pelecut semangat, motivasi, serta penanaman berbagai perilaku positif lainnya seperti disiplin, jujur, mandiri, saling menghargai, memiliki integritas tinggi, dan semangat gotong royong.

Sementara itu, beberapa bulan terakhir sejak pandemi terjadi, pembelajaran jarak jauh (PJJ) yang lazimnya dilakukan secara daring menjadi alternatif solusi yang tampak masuk akal untuk dilakukan. Hal itu karena cara ini dinilai lebih aman— dilihat dari aspek penerapan physical distan­cing— juga mengingat siswa sebagai subjek belajar dapat dengan leluasa mencari, meng­ontruksi, dan menemukan sendiri pengetahuan yang ingin diraih. Karena itu orientasi virtual tampaknya juga menjadi pilihan yang tepat sebagai solusi untuk tetap menyelaraskan pengenalan lingkungan sekolah bagi siswa baru yang akan menjejaki pendidikan di sekolah baru.

Tak ubahnya PJJ yang dilakukan secara daring, orientasi siswa juga dapat dilakukan secara virtual dengan menganut prinsip utama orientasi siswa, yaitu pengenalan lingkungan sekolah. Dengan tetap berpedoman pada tujuan utama orientasi siswa, sekolah dapat mendesain secara bebas rumusan dan konsep orientasi siswa. Namun, dalam pelaksanaannya, orientasi virtual itu tentu memiliki banyak kendala, seperti terbatasnya akses internet yang memadai bagi sebagian siswa di sebagian daerah, minimnya motivasi siswa, dan terbatasnya informasi yang dapat disampaikan disertai tidak leluasanya kegiatan yang dapat dilaksanakan.

Orientasi virtual ini juga menambah beban kerja manajemen sekolah dalam merumuskan kegiatan bagi siswa baru disebabkan terbatasnya akses penyampaian kegiatan hanya pada jaringan virtual. Namun, hal ini tidak menjadi kendala berarti mengingat orientasi virtual juga setidaknya menghapus citra orientasi siswa yang biasanya dilabel keras, senioritas, bahkan terkadang tidak menjunjung tinggi asas kemanusiaan. Hal ini disebabkan melalui orientasi virtual, siswa baru sebagai subjek utama kegiatan hanya fokus pada ikut serta rangkaian kegiatan yang telah diatur tanpa perlu mengikuti instruksi senior yang lazimnya dilakukan dalam orientasi model lama.

Bentuk orientasi virtual

PJJ berbasis daring bukan lagi menjadi hal tabu dalam dunia pendidikan kita. Sejak tiga bulan terakhir siswa dan guru kian akrab dengan model belajar daring yang digagas pemerintah sejak pandemi menyeruak. Demikian juga berbagai pelatihan, seminar, bahkan beragam diskusi mulai dilaksanakan secara virtual dengan menggunakan berbagai platform yang telah tersedia. Hal itu dapat diadopsi manajemen sekolah dalam rangka merealisasikan kegiatan orientasi siswa yang harusnya dilaksanakan dalam waktu dekat.

Orientasi virtual bagi siswa baru dapat diawali dengan merumuskan kegiatan berdasarkan tujuan kegiatan tersebut, yaitu pengenalan lingkungan fisik dan sosial sekolah. Untuk lingkungan fisik sekolah yang terdiri dari sarana, prasarana, serta fasilitas yang ada di sekolah, kegiatan pengenalan sekolah dapat direalisasikan melalui pertemuan maya menggunakan media penunjang seperti Zoom, Google meet dan lainnya. Dalam pertemuan itu, pihak sekolah menampilkan video lingkungan fisik sekolah yang menggambarkan keadaan dan kondisi sekolah secara nyata. Sehingga ketika sekolah kembali aktif, siswa tak lagi menjadi asing dengan berbagai sarana dan fasilitas sekolah.

Adapun untuk lingkungan sosial juga dapat direalisasikan melalui video perkenalan dengan para guru dan tenaga kependidikan nonguru. Untuk perkenalan teman seangkatan dan peserta didik senior, dapat diwujudkan melalui webinar yang dipandu siswa pengurus organisasi sekolah. Dalam diskusi itu, siswa baru dapat saling berkenalan dengan sesama teman angkatan baik dalam kelompok besar maupun dipisahkan dalam kelompok kecil.

Selain itu, untuk meningkatkan motivasi dan minat belajar siswa, dalam kegiatan orientasi juga dapat dimasukkan berbagai aktivitas yang mampu merangsang siswa untuk menentukan langkah dalam mencapai tujuan dan cita-citanya, seperti membuat life mapping dan berbagai kegiatan pendukung lain. Sekolah dapat dengan bebas merencanakan dan merumuskan berbagai kegiatan positif yang mampu menunjang proses pengenalan lingkungan sekolah bagi siswa baru. Pandemi covid-19 bukanlah penghalang untuk mewujudkan tujuan mulia ini, karena bagaimanapun pendidikan tidak hanya ha­dirnya siswa ke sekolah, akan tetapi sejauh mana sekolah mampu menghadirkan pengetahuan dan pengalaman untuk memperkaya wawasan siswa. Orientasi virtual, selamat mencoba.

BERITA TERKAIT