06 July 2020, 00:55 WIB

Menyulap TPS Jadi Taman Bacaan Anak


MI | Humaniora

SUNGGUH kreatif, ada kolam air seluas 4x4 meter persegi bekas tempat pembuangan sampah disulap segelintir pemuda menjadi ruang taman baca anak. Namanya Taman Baca Anak Merdeka, berlokasi di Kelurahan Onekore, Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur.

Di sinilah anak-anak setempat sering meluangkan waktu bermain sambil belajar. “Kita bangun ruangan seadanya dengan tripleks dan beratap seng,” tutur pengelola sekaligus pendiri Taman Baca Anak Merdeka, Mario Gesiradja, Rabu (1/7).

Ide awal pendirian taman baca untuk anak itu ia awali setelah menjalani kuliah kerja nyata (KKN) di Bengkulu pada 2016. Kemampuan literasi yang rendah di kampung halamannya, Ende, NTT, mendorong Mario untuk berbuat sesuatu.

“Saya terinspirasi membuat taman bacaan di kampung saya,” ujarnya.

Hingga pertengahan 2017, Mario mengirimkan koleksi bukunya ke Ende melalui program Free Cargo Literacy yang diadakan pemerintah, gratis keseluruh Indonesia. Hingga pada Februari 2018 selepas lulus kuliah dan pulang ke kampung halaman, Mario mendirikan Taman Baca Anak Merdeka. Berawal dari buku koleksi pribadi, buku kuliah dan novel, dan 50-an buku anak, taman bacaan beroperasi.

Saat ini koleksinya mencapai 1.000 eksemplar yang beragam, seperti buku sains untuk anak, biografi tokoh dunia, dan buku cerita  bergambar. “Untuk dewasa, ada buku-buku hukum, novel Indonesia ataupun terjemahan,”  imbuh Mario.

Taman Baca Anak Merdeka buka setiap hari. Anak-anak biasa berkunjung ketika sore. “Kalau lagi liburan seperti sekarang, dari pagi sampai malam, saya mau tidur baru tutup,” kata guru sekolah dasar ini.

Beberapa anak bahkan sering datang saat jam istirahat sekolah. Selain membaca, mereka juga berkegiatan lain, seperti mewarnai dan menggambar. “Kalau sekadar membaca, ternyata anak-anak cepat bosan. Jadi, para pengelola mencoba lebih kreatif dengan mengadakan kegiatan seperti mendongeng. Dampaknya, anak selalu ingin datang ke sini,” ujarnya.

Mario melihat antusiasme anak-anak di kampung halamannya dalam berliterasi cukup tinggi. “Awalnya banyak yang sangsi dan menganggap minat baca anak-anak di sini rendah. Ternyata bukan minat baca yang rendah, tapi aksesnya yang tidak ada,” pungkasnya. (Ifa/H-1)

BERITA TERKAIT