05 July 2020, 23:12 WIB

Prosedur Discseel Jadi Opsi Baru Perawatan Herniasi Diskus


Ghani Nurcahyadi | Humaniora

TULANG belakang bekerja keras dengan menahan tekanan dari berbagai arah berulang kali setiap hari. Inilah yang bisa menyebabkan jaringan lunak bernama Diskus yang ditemukan antara masing-masing vertebra di tulang belakang sangat rentan terhadap cedera. 

Fungsi jaringan Diskus sebagai peredam kejut dan menjaga fleksibilitas tulang belakang untuk memudahkan semua gerakan tubuh. Seiring dengan bertambahnya usia, bagian dari proses penuaan, cairan diskus mengalami penurunan. 

Kerusakan pada diskus ini ada dua yang paling umum, yaitu herniasi diskus dan kelainan diskus degeneratif. Perawatan untuk cedera ini dapat bervariasi, opsi yang umum adalah disektomi, tetapi sekarang ada perawatan regeneratif yang baru dikenal di Indonesia, yaitu Discseel Procedure (DST).

Spesialis tulang belakang asal Texas, Amerika Serikat, Dr. Kevin Pauza, dalam penulisan ilmiah mengenai disektomi yang terbit di AS, mengatakan dengan adanya kelainan diskus degeneratif, seluruh diskus akan mulai mengering dan lapisan luarnya bisa retak. Ini dapat membuat seluruh tulang belakang kurang efektif dalam menyerap tekanan dan dapat menyebabkan diskus menyusut ketebalannya. 

"Itu bisa menimbulkan rasa sakit dengan gerakan tertentu. Saraf yang keluar dari kolom tulang belakang juga bisa terjepit, yang menyebabkan rasa sakit atau mati rasa pada lengan dan kaki," tulis Pauza. 

Baca juga : Bersepeda Aman Di Masa Pandemi, Ini Tips dan Triknya

Disektomi adalah upaya menghilangkan nyeri punggung dengan menyingkirkan sebagian atau seluruh diskus tulang belakang yang terluka. Prosedur ini dapat membantu menghilangkan beberapa rasa sakit yang disebabkan oleh diskus yang rusak, terutama yang berkaitan dengan nyeri saraf. Namun, ada banyak kekurangan pada perawatan ini juga.

“Disektomi adalah prosedur tulang belakang invasif yang mengharuskan pasien untuk menjalani prosedur yang memakan waktu dan menginap di rumah sakit selama satu atau dua hari dalam pengawasan setelah pembedahan. Waktu pemulihan untuk bedah ini juga bisa sampai sebulan atau lebih tergantung pada tingkat keparahan cedera. Jika Anda ingin kembali bekerja di tempat Anda diharuskan mengoperasikan mesin berat atau mengangkat benda berat, total waktu pemulihan dapat berlangsung hingga tiga bulan,” jelas Pauza dalam penjabarannya.

Risiko cedera kembali juga cukup umum dengan prosedur ini. Satu studi mencatat bahwa hingga 25 persen pasien mengalami herniasi ulang dari diskus yang terkena. Bahkan jika herniasi lain tidak terjadi, 10 persen pasien harus menjalani operasi lebih lanjut untuk upaya mengurangi tingkat rasa sakit. Disektomi selanjutnya dapat menjadi lebih sulit untuk dituntaskan juga karena penumpukan jaringan parut dari bedah awal.

Dr Pauza pun mengembangkan dan menerapkan metode perawatan alternatif yang diberi nama Discseel Procedure (DST). Pilihan pada perawatan ini juga berfungsi untuk memperbaiki gangguan tulang belakang dan nyeri punggung yang berasal dari diskus intervertebralis, tetapi mampu melakukannya dengan cara invasif minimal. 

Prosedur ini menggunakan 100% biologis alami yang disebut fibrin untuk membantu menumbuhkan kembali jaringan tulang belakang yang rusak, mempertahankannya tanpa membuangnya. Dengan mempertahankan diskus intervertebralis, kejadian cedera ulang cenderung berkurang dan manajemen nyeri dapat menjadi lebih efektif.

Fibrin biologis sendiri merupakan benang-benang yang akan membentuk jaring yang saling bertautan sehingga sel-sel darah merah beserta plasma akan terjaring. Jaringan baru akan terbentuk dan luka akan menutup. 

Injeksi fibrin dapat berfungsi sebagai lem pada diskus, membantu menutup kerusakan yang terjadi pada lapisan annulus luar, seperti robekan atau retakan. 

“Prosedur ini menggunakan injeksi langsung ke diskus yang rusak dengan menggunakan panduan visual untuk memastikan akurasi. Diperlukan sekitar 40 menit untuk menyelesaikan dan hanya membutuhkan anestesi lokal. Pasien dapat meninggalkan klinik setelah 30-60 menit istirahat dan mulai perlahan kembali ke kegiatan sehari-hari mulai hari berikutnya,” kata Pauza. 

Baca juga : Norwegia Assesment Dokumen untuk Pencairan Dana Emisi

Secara keseluruhan, prosedur ini berfungsi untuk memperbaiki diskus yang rusak dengan merangsang pertumbuhan dari dalam ke luar dan mampu memusatkan prosesnya karena penyegelan diskus yang disediakan oleh fibrin. 

Suntikan ini telah terbukti mengurangi gejala nyeri yang berkaitan dengan gangguan diskus pada tingkat yang sangat tinggi, dan memiliki tingkat keberhasilan 70 persen pada pasien yang telah menjalani prosedur sebelumnya untuk mengobati masalah tulang belakang mereka.

Ini menjadikan Discseel Procedure (DST) sebagai alternatif yang bagus selain disektomi, yang melibatkan prosedur tulang belakang yang jauh lebih invasif.

Saat ini, Discseel Procedure (DST) tersedia di AS dan Jepang. International Lumbago Clinic adalah yang pertama di Asia dan klinik terdekat dari Indonesia dimana Discseel® Procedure (DST) dilaksanakan. 

Pasien dapat mengirim gambar MRI mereka melalui email atau pesan aplikasi untuk mengetahui apakah mereka adalah calon pasien untuk perawatan dan memiliki pertanyaan mereka akan dijawab dalam bahasa Inggris atau Mandarin sebelum mereka memutuskan untuk menjalani perawatan. (RO/OL-7) 

BERITA TERKAIT