05 July 2020, 19:40 WIB

Ekosistem Resi Gudang di Indonesia Semakin Bergairah


Ghani Nurcahyadi | Ekonomi

RESI gudang komoditas rumput laut, mulai menunjukkan gairah ditengah masyarakat. Instrumen yang merupakan dokumen bukti kepemilikan barang yang disimpan di suatu gudang yang diterbitkan oleh pengelola gudang ini, kini mulai dikerjasamakan dari pemilik Resi Gudang dengan korporasi lain.

Hal tersebut dilakukan oleh PT Kliring Berjangka Indonesia (Persero) melalui anak usahanya yaitu PT Kliring Perdagangan Berjangka Indonesia (KPBI) dengan PT Asia Sejahtera Mina. Keduanya melakukan kerja sama tentang Pembelian dan Penjualan Kembali (REPO) Resi Gudang. 

Dalam kerja sama ini, KPBI melakukan pembelian atas Resi Gudang dari komoditas rumput laut yang dimiliki oleh PT Asia Sejahtera Mina Tbk, dengan ketentuan akan dilakukan pembelian kembali dalam jangka waktu tertentu. 

Kerja sama keduanya diteken oleh Direktur Utama KPBI Yose Skundarisa dan Direktur Keuangan PT Asia Sejahtera Mina Agnes Kristina. Dalam kerja sama ini, KPBI menyepakati tentang Plafon maksimal Pembelian dan Penjualan Kembali yaitu sebesar Rp4 miliar atas Resi Gudang Rumput Laut yang dimiliki PT Asia Sejahtera Mina. 

Direktur Utama PT Kliring Berjangka Indonesia Fajar Wibhiyadi mengatakan, kerja sama merupakan upaya untuk meningkatkan ekosistem bisnis dalam Sistem Resi Gudang. 

"Harapan kami tentunya dengan adanya kerjasama ini akan menyerap di sektor hulu dari Sistem Resi Gudang yaitu para nelayan rumput laut, serta menjadi daya tarik dimana pemilik komoditas lain tergerak untuk menempatkan komoditasnya ke dalam Sistem Resi Gudang. Bagi nelayan rumput laut sendiri, Sistem Resi Gudang merupakan solusi untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi mereka, karena stabilitas harga akan terjaga," kata Fajar dalam keterangan tertulisnya. 

Fajar menjelaskan, PT Kliring Perdagangan Berjangka Indonesia merupakan anak usaha dari PT Kliring Berjangka Indonesia (Persero), yang yang salah satu jenis usahanya adalah menjalankan usaha yang berkaitan dengan pengembangan jasa kliring dan/atau penjaminan transaksi pasar fisik komoditas dan Resi Gudang.

Baca juga : Isu Gelombang Kedua Korona & Reshuffle akan Pengaruhi Rupiah

Fajar Wibhiyadi menambahkan,  pihaknyabakan terus mendorong anak usaha KBI untuk membuka aliansi dan kerjasama dengan berbagai pihak terkait REPO Resi Gudang. Tidak hanya di komoditas rumput laut, tapi juga di komoditas-komoditas lain. 

Menurutnya, pertumbuhan resi gudang di Indonesia cukup baik dan mekanisme REPO bisa dimanfaatkan oleh para pemilik Resi Gudang untuk mendapatkan pendaanaan atas Resi Gudang yang mereka miliki. 

"Selain itu, kami sebagai induk usaha akan terus mendorong kinerja anak usaha, sehingga mampu menjadi salah satu engine growth yang mendukung  lini bisnis utama kami di Induk usaha, yaitu di sektor Perdagangan Berjangka Komoditi, Pasar Fisik serta Sistem Resi Gudang," ujarnya. 

Terkait Resi Gudang Rumput laut, data KBI yang berperan sebagai Pusat Registrasi Resi Gudang menyebutkan, selama 2020 (Januari-Mei), tercatat penerbitan 4 resi gudang dengan volume 438.450 Kg, dengan nilai pembiayaan sebesar Rp192 juta. Sedangkan pada 2019, jumlah resi gudang yang terbut sebanyak 24 dengan volume 1.515.340 Kg, dengan nilai pembiayaan sebesar Rp10.867.755,

KBI emproyeksikan jumlah resi gudang rumput laut, kedepan akan terus tumbuh. Selain potensi besar rumput laut yang ada di Indonesia, masyarakat juga sudah mulai memahami manfaat dari Sistem Resi Gudang tersebut.

"Dan kami bersama pemangku kepentingan lain di sektor ini, terus melakukan sosialisasi terkait pemanfaatan Resi Gudang ini kepada masyarakat," pungkas Fajar. (RO/OL-7)

BERITA TERKAIT