05 July 2020, 21:08 WIB

Norwegia Assesment Dokumen untuk Pencairan Dana Emisi


Ferdian Ananda Majni | Humaniora

NORWEGIA saat ini sedang melakukan assessment dan minta dukomen kepada Indonesia sebagai Negara penerima dana atas pengurangan emisi gas rumah kaca dari program penurunan emisi dari deforestasi dan degradasi lahan (REDD+).

Wamen KLHK Alue Dahong membenarakan bahwa adanya pernyataan resmi dari otoritas Nowergia untuk pembayaran yang akan disalurkan ke Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup (BPDLH).

"Maka mereka saat ini pihak Norwegia sedang melakukan assesment terhadap syarat-syarat yang diminta dari BPDLH sebagai penerima dana," kata Alue kepada Media Indonesia, Minggu (5/7).

Nanun demikian, Alue menjelaskan BPDLH sudah mengirim persyaratan yang diminta pihak Norwegia, dan sebagian besar persyaratan sudah dinilai.

"Yang tersisa masih dalam penilaian adalah dokumen Investment Plan dan Operation Manual," sebutnya.

Selanjutnya setelah seluruh syarat terpenuhi dan penilaian selesai, kata Alue, maka dana tersebut akan di transfer ke BPDLH.

Sebelumnya, Duta Besar RI untuk Norwegia, Todung Mulya Lubis, menyambut baik pengumuman pemerintah Norwegia yang akan membayarkan hasil kerja penurunan emisi yang berhasil dilakukan oleh Indonesia.

Pemberitaan di laman resmi pemerintah Norwegia, Regjeringen no, pada tanggal 3 Juli 2020, menyebutkan Norwegia akan melakukan pembayaran berbasis hasil (Result Based Payment) sebagai hasil kerja sama Reduction of Emissions from Deforestation and Forest Degradation (REDD+) sebesar 530 juta Krona Norwegia (NOK) atau senilai sekitar US$56 juta pada tahun 2020.

“Kami menyambut baik pengumuman pembayaran berbasis hasil yang telah disampaikan oleh Menteri Lingkungan Hidup dan Iklim Norwegia Sveinung Rotevatn,” ujar Dubes Todung dalam siaran pers yang diterbitkan KBRI Oslo, Minggu (5/7).

Dubes Todung mengungkapkan, dalam pertemuan pada 17 Juni 2020 lalu, Menteri Rotevatn menyampaikan bahwa Indonesia merupakan mitra penting dalam melawan perubahan iklim dan penurunan gas rumah kaca. Indonesia dipandang sebagai contoh sukses kerangka kerja sama tersebut.

Baca juga : Dubes Todung Sambut Baik Pengumuman Norwegia Bayar US$56 Juta

Pada tahun ini Indonesia-Norwegia memperingati 70 tahun hubungan diplomatik antara kedua negara sekaligus 10 tahun kemitraan dalam kerangka kerja sama REDD+. Kemitraan ini telah membuahkan hasil yang positif bagi penurunan emisi gas rumah kaca Indonesia.

Ia melanjutkan, kemitraan Indonesia-Norwegia dalam bidang lingkungan hidup sangat menguntungkan kedua belah pihak, dimana Norwegia tidak hanya memberikan dukungan pendanaan, namun juga dukungan teknis.

Diketaui, kedua negara telah menyepakati aturan main pembayaran pengurangan emisi berbasis hasil (result-based payment). Jumlah pengurangan emisi yang akan dibayar sekitar 4,8 juta ton CO2e. Kerjasama pendanaan iklim melalui melalui komitmen nota kesepakatan (letter of intent/LOI) pada 2010. Norwegia menjanjikan dukungan hingga US$1 miliar.

Sejauh ini, baru sekitar 13% dana dialirkan yang digunakan untuk mendukung langkah pemerintah mengatasi deforestasi dari sisi teknis dan pembangunan kapasitas. Sisanya dana akan diberikan untuk membayar hasil pengurangan emisi.

Jumlah pembayaran berbasis hasil yang dilakukan oleh Norwegia merupakan pembayaran atas hasil penurunan emisi yang telah diraih Indonesia pada tahun 2016-2017. Angka penurunan emisi yang telah diverifikasi untuk tahun tersebut mencapai 11,2 juta ton CO2eq. Dengan harga pasar karbon dunia sebesar US$5 per ton, total pembayaran untuk penurunan emisi tersebut mencapai US$56 juta. (OL-2)

 

BERITA TERKAIT