05 July 2020, 05:50 WIB

Ketahanan Bahasa


Meirisa Isnaeni Staf Bahasa Media Indonesia | Weekend

SEBAGAI warga negara Indonesia, hendaklah kita cinta kepada bahasa Indonesia. Cinta terhadap bahasa Indonesia artinya harus mengenal, memahami, mencintai, dan menggunakan bahasa Indonesia sesuai dengan kaidah penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar.

Ketahanan bahasa Indonesia masih menjadi tantangan saat ini karena mulai menurunnya kecintaan dan kebanggaan penutur bahasa, terutama generasi muda, di negeri ini. Bisa dikatakan, bahasa Indonesia saat ini di ujung kehancuran: baik dari dalam negeri maupun luar diserang sehingga perlu dibendung.

Bahasa menunjukkan jati diri bangsa. Hal ini menjadi ironis karena di kalangan generasi muda saat ini, bahasa Indonesia sudah mulai ‘keropos’ dan kelak bisa saja tergerus perkembangan zaman. Hal ini disebabkan generasi muda cenderung bersikap lebih percaya diri ketika menggunakan bahasa gaul dan gampangnya mencampurkan bahasa asing dengan bahasa Indonesia.

Bahasa asing dianggap lebih bergengsi jika dibandingkan dengan bahasa negeri sendiri. Alasannya, mereka tidak ingin ketinggalan zaman. Dengan menggunakan bahasa gaul dan mencampuradukkan bahasa asing dengan bahasa Indonesia, mereka merasa tetap kekinian.

Padahal, tanpa disadari, kedua hal itu ialah perusak bahasa Indonesia yang mengakibatkan bahasa Indonesia menjadi tidak baik.

Berikut contoh bahasa gaul yang sering digunakan: Baper, singkatan dari bawa perasaan. Istilah baper ini merujuk kepada seseorang yang segala ucapan dan tindakan orang lain dimasukkan ke hati. Bucin, kependekan dari budak cinta. Singkatan ini digunakan untuk mereka (muda-mudi) yang sedang tergila-gila cinta, orang tersebut mau melakukan apa pun demi orang yang dicintainya. Halu, kependekan dari halusinasi. Seseorang yang sedang berimajinasi atau mempunyai khayalan tinggi. Kemudian, ada juga pansos, kependek an dari panjat sosial. Istilah pansos ditujukan kepada orang-orang yang suka mencari perhatian publik, ter utama di media sosial.

Selain gemar menggunakan bahasa gaul, masyarakat atau generasi muda juga senang sekali mencampurkan bahasa asing dengan bahasa Indonesia. Contohnya, mereka sering menyebut player game online. Padahal, yang benar ialah online game player karena yang dimaksud ialah pemain gim daring (online). Pun ada istilah zaman now yang kerap disebut, maksudnya ialah zaman sekarang. Selain itu, ada ngakak online yang artinya tertawa terbahak-bahak saat melihat sesuatu yang lucu di dunia maya. Kemudian, ada juga kata which is yang berasal dari bahasa asing. Which is sering disisipkan dalam bahasa Indonesia. Misalnya pada kalimat, “Siang ini gue mesti ke Surabaya naik pesawat, which is gue butuh kira-kira dua jam.” Selain itu, ada juga kata worth it yang sering dipakai. Worth it mempunyai arti pantas, layak, atau setimpal. Contohnya, “Tas ini enggak worth it deh dibeli, mending uangnya untuk bayar kuliah.” Kemudian, ada juga kata honestly yang sering digunakan. Honestly mempunyai arti sejujurnya. Misalnya, “Honestly, gue enggak percaya sih kalau dia suka sama gue.”

Melihat fenomena gejala bahasa di atas, itu menjadi persoalan kebahasaan. Perlu langkah dan upaya demi kebertahanan bahasa Indonesia karena seperti hal pangan, bahasa juga harus dijaga dan dilestarikan.

Tujuannya untuk mempertahankan bahasa Indonesia agar tidak punah dan terseok-seok.

BERITA TERKAIT