05 July 2020, 04:33 WIB

Banyak Narkoba Jenis Baru Masuk ke Indonesia


Sru/J-3 | Politik dan Hukum

BADAN Narkotika Nasional membeberkan ada 86 narkoba jenis baru yang beredar di Indonesia. Salah satunya ialah dimetiltriptamina, narkoba berbentuk serbuk dari kulit kayu yang tumbuh di hutan Amazon, Brasil.

Kepala BNN Komjen Heru Winarko mengatakan bahan-bahan narkoba itu datang dari luar negeri yang kemudian diolah dan dijadikan narkoba, bahkan dari industri rumahan. “Bisa dibuat di luar dan dalam negeri, tapi yang jelas bahan dasarnya bisa farmasi,” ujar Heru, kemarin.

Narkoba jenis baru yang banyak beredar seperti dimetiltriptamina, terang Heru, tidak masuk begitu saja ke Indonesia. Lemahnya pengawasan juga diakuinya bukan satu-satunya penyebab utama kasus tersebut.

Saat ini dunia menghadapi peredaran new psychoactive substances (NPS) dengan jumlah sebanyak 860 jenis. Beberapa jenis NPS telah masuk ke Permenkes Nomor 20 Tahun 2018 tentang Perubahan Penggolongan Narkotika.

“NPS yang kami temukan sudah 78 jenis, yang terbaru minggu lalu derivat dari katinon. Bisa masuk dari luar seperti ganja gorilla,” kata Heru.

Bahan dasar pembuatan narkoba termasuk jenis baru, tukas dia, tidak bisa dipisahkan dengan bahan utamanya, yakni prekusor. Penggunaan prekusor di Indonesia untuk berbagai industri diawasi dan dikontrol sangat ketat.

Deputi Bidang Pemberantasan BNN Irjen Arman Depari menambahkan, dari 86 jenis narkoba yang masuk ke Indonesia sepanjang 2020, 74 di antaranya telah diatur dalam Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika.

Menurutnya, dimetiltriptamina biasa digunakan dalam upacara spiritual dan praktik perdukunan di Brasil. Pun barang haram yang termasuk asing di Indonesia ini dapat menimbulkan efek halusinasi bagi penggunanya.

Secara terpisah, Ketua Umum Gerakan Anti-Narkoba Nasional (Gannas) I Nyoman Adi Peri mengatakan industri yang memiliki izin untuk mengimpor bahan dasar pembuatan narkoba prekusor harus diawasi secara ketat. Hal itu mencegah adanya kebocoran penggunaan prekusor untuk memproduksi narkoba. “Dalam hal ini BNN harus dilibatkan dalam pengawasan bagi industri yang memiliki izin untuk mengimpor bahan itu. Jangan sampai ada kebocoran,” tukasnya.

Terkait dengan masuknya narkoba jenis baru di Indonesia, Nyoman pun meminta pihak terkait untuk memastikan siapa yang bertanggung jawab dan menggerakkan peredarannya. “Jadi, harus dipastikan betul apakah narkoba baru ini masuk tanpa melibatkan sindikat narkoba ataukah dari aktivitas impor ini,” tutup dia. (Sru/J-3)

BERITA TERKAIT