03 July 2020, 20:00 WIB

Solidaritas Sosial Berbasis Kearifan Lokal Modal Hadapi Krisis


Ghani Nurcahyadi | Humaniora

DAMPAK dari sisi dan ekonomi dan kesehatan akibat pandemi Covid-19 di Indonesia sangat terasa. Hal itu pun bisa jadi salah satu ujian ketangguhan dan ketahanan bangsa dalam menghadapi situasi krisis. Indonesia dinilai punya modal penting dalam melewati masa krisis itu. 

Modal itu menurut Sekretaris Jenderal Pengurus Pusat Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada (PP Kagama) AKAN Ari Dwipayana, adalah kemampuan beradaptasi bangsa dalam menghadapi berbagai macam krisis. 

Salah satunya, kata Ari terlihat dari tatanan sosial masyarakat desa yang mampu membagun ketahanan berbasis kearifan lokal dan solidaritas secara alami dalam menghadapi situasi krisis. Hal itu ditegaskan Ari dalam Webinar bertajuk Desa Inklusif: Basis Solidaritas Bangsa yang digelar Kagama secara virtual. 

Kembali ke desa, kata Ari, adalah salah satu cara untuk menata lagi strategi ke depan dalam membangun bangsa ini. 

“Saya gembira teman-teman Kagama mulai melihat arti penting desa. Karena desa ini menjadi salah satu kekuatan yang kita miliki sekarang dalam menghadapi berbagai hal, termasuk dalam situasi krisis” ujar Koordinator Staf Khusus Presiden RI itu. 

Dalam berbagai kesempatan, kata Ari, Presiden Joko Widodo menekankan strategi yang berbasis pada kearifan lokal dan melibatkan komunitas lokal untuk menangani persoalan kesehatan maupun ekonomi.

 

Baca Juga:  Tangani Korona, Dua RS Pertamina Manfaatkan Teknologi dari Cisco

 

“Itulah sebabnya desa menjadi ujung tombak yang sangat penting dalam pengendalian krisis,” imbuh alumnus Fisipol UGM tersebut. 

Selain itu, pria kelahiran Ubud, Bali itu mengatakan, saat ini yang dibutuhkan adalah solidaritas sosial, yaitu bagaimana elemen bangsa bisa saling bekerja sama, saling membantu, mengingatkan, menolong satu sama lain di tengah situasi yang sulit.  

Menurut Ari solidaritas sosial dapat terwujud jika terbentuk  kesetaraan sosial dan sikap inklusif seperti keterbukaan menerima keragaman, perbedaan, dan menghargai bahwa setiap warga desa mempunyai peran dalam mengatasi persoalan bersama.

Ari meyakini bahwa pelajaran penting yang dapat diambil dari situasi krisis ini di tingkat desa, baik dalam bentuk membangun kesetaraan sosial, membangun solidaritas, dan inovasi merupakan modal yang sangat kuat di masa depan dalam menata desa yang lebih maju dan berjaya. 

“Memang itu tidak cukup dengan diskusi atau sekedar kita bicarakan, namun perlu kita gerakkan dan wujudkan dalam bentuk aksi nyata dan konkrit,” ujarnya. 

Selain itu, Ari juga mendorong munculnya inovasi. Di masa krisis ini, kreativitas perlu didorong untuk memunculkan inovasi.

Berbagai inovasi yang muncul, kata Ari, merupakan salah satu bentuk solidaritas yang inovatif. Misalnya yang dilakukan oleh Kagama dengan program canthelan.

“Jadi, solidaritas itu perlu inovasi untuk dijalankan. Bagaimana KAGAMA bisa menginisiasi itu di berbagai tempat, dan bekerja sama dengan berbagai kelompok sosial dan masyarakat desa.”

“Solidaritas dan inovasi itu saling menguatkan saling berkait satu sama lain,” tuturnya. 

Selain Ari, hadir dalam webinar tersebut Ketua Umum PP Kagama Ganjar Pranowo dan Sekretaris Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi Anwar Sanusi. (RO/OL-7)

BERITA TERKAIT