03 July 2020, 17:55 WIB

Pengintip CCTV, 1 Eks Pegawai Starbucks Jadi Tersangka


Tri Subarkah | Megapolitan

POLRES Metro Jakarta Utara menetapkan satu orang tersangka dalam kasus pelecehan seksual yang terjadi di salah satu gerai waralaba kopi Starbucks. Sebelumnya, pihak kepolisian telah mengamankan dua orang mantan pegawai Starbucks tersebut terhadap peristiwa yang terjadi pada Rabu (1/7) lalu.

Kapolres Metro Jakarta Utara, Kombes Budhi Herdi Susianto, menyebut kedua pelaku yang terlibat dalam video yang sempat viral di media sosial itu berinisial KH dan DD. Mulanya, sambung Budhi, pihak kepolisian mengamankan KH di daerah Sunter, Jakarta Utara. Sedangkan DD ditangkap di Cipinang, Jakarta Utara.

Baca juga: Polisi Akan Periksa Korban Pelecehan Seksual di Starbucks

"Kami mengembangkan lagi terhadap objek yang menjadi sasaran dalam video viral tersebut, yakni objek seorang wanita yang ternyata kami mendapatkan bahwa nama wanita tersebut adalah VA yang kemudian kami mencoba menghubungi," terang Budhi di Mapolres Metro Jakarta Utara, Jumat (3/7).

Budhi menjelaskan bahwa VA telah memenuhi panggilan pihaknya dan merasa keberatan terhadap peristiwa yang menjadi perbincangan khalayak tersebut. Dari pemanggilan tersebut, menurut Budhi, korban mengenal dengan pelaku KH.

Pihak kepolisian menetapkan DD sebagai tersangka dalam peristiwa tersebut. Menurut Budhi, penetapan tersebut dibuat karena DD berperan dalam pembuatan serta pengunggahan video pelecehan seksual itu ke media sosial.

Sementara itu, lanjut Budhi, pihaknya hanya menetapkan KH sebagai saksi meskipun KH berperan dalam melakukan pembesaran terhadap video kamera pengawas (CCTV).

"Namun dalam hal ini kita berbicara yang membuat, kemudian yang meng-upload itu adalah tersangka DD. Sehingga sampai saat ini, untuk peran KH, statusnya masih sebagai saksi sambil menunggu proses penyidikan lebih lanjut," ujar Budhi.

Atas peristiwa tersebut, polisi mempersangkakan tersangka DD dengan Pasal 45 Ayat (1) jo Pasal 27 Ayat (1) Undang-undang No 19 2016 tentang perubahan atas Undang-undang No 1 Tahun 2008 tentang Infomasi dan Transksi Elektronik dengan ancaman hukuman enam tahun penjara. (OL-6)

BERITA TERKAIT