03 July 2020, 10:14 WIB

Para Siswa di Inggris Baru Bisa Sekolah pada September 2020


Deri Dahuri | Internasional

SEMUA anak di Inggris akan kembali bersekolah pada September 2020. Pemerintah Inggris mengatakan hal tersebut pada Kamis (2/7) setelah berminggu-minggu terjadi silang pendapat terkait pemberlakukan pembatasan sosial virus korona yang telah dicabut.

Semula pemerintah Inggris memang berencana mengizinkan kembali para murid sekolah bersekolah sebelum liburan musim panas pada akhir Juli 2020.

Namun akhirnya rencana tersebut ditunda setelah munculnya khawatiran dari serikat pengajar dan orangtua bahwa pandemi Covid-19 masih menjadi ancaman bagi para siswa.    

Pihak berwenang setempat mengatakan bahwa penerapan social dan physical distancing dengan jarak 2 meter pada anak-anak tidak akan mudah. Di sisi lain, penerapan physical distancing untuk proses belajar mengajar membutuhkan ruang tambahan. Persoalan ruang kelas tambahan belum memadai.

Physical distancing semula harus diterapkan dengan jarak 2 meter. Tetapi akhirnya dengan desakan kebutuhan, jarak physical distancing menjadi 1 meter.

Namun mereka pun meragukan hal tersebut bisa dilakukan oleh anak-anak dan keputusannya sekolah belum bisa melakukan kegiatn belajar mengajar.

Penutupan sekolah akibat pandemi Covid-19 telah mendapat sorotan dan kritik sejak Maret 2020. Pasalnya tak semua anak terutama dari keluarga tak mampu masih sulit melakukan belajar secara online.

"Sangat penting untuk memastikan bahwa tidak ada anak yang kehilangan lebih banyak waktu dalam pendidikan," kata Sekretaris Pendidikan atau Menteri Pendidikan Inggris Gavin Williamson kepada parlemen.

“Sekolah dan perguruan tinggi perlu bekerja dengan keluarga untuk mendapatkan kehadiran rutin sejak awal tahun akademik baru dengan pengenalan kembali kehadiran yang wajib,” ujar Williamson.

Sementara itu, korban meninggal akibat Covid-19 di Inggris tercatat hampir mendekati 44 ribu orang dan tertinggi di kawasan Erooa. Korban meninggal di Inggris menempati posisi ketiga setelah Amerika Serikat (AS) dan Brasil. (AFP/Alarabiya/OL-09)

 

BERITA TERKAIT