02 July 2020, 06:50 WIB

Waspadai Inflasi Harga Pangan


SURYANI WANDARI PUTRI | Ekonomi

EKONOM Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira mengingatkan pemerintah mewaspadai gejolak kenaikan harga pangan.

Hal itu disampaikannya merujuk pada rilis Badan Pusat Statistik (BPS) yang melaporkan adanya inflasi harga kelompok makanan, dari -0,5% di Mei 2020 jadi 0,77% di Juni.

"Inflasi bahan makanan yang naik menjadi sinyal gejolak harga pangan mulai terjadi. Ini harus diwaspadai di tengah sisi permintaan yang masih lemah," kata Bhima, kemarin.

Tingkat inflasi inti, yang menjadi acuan untuk mengukur penawaran dan permintaan, kata Bhima, juga mengalami penurunan, dari 0,06% di Mei menjadi 0,02% di Juni.

Penurunan itu jadi indikator masih rendahnya konsumsi rumah tangga. "Pendapatan masyarakat masih tertekan akibat pandemi covid-19. Pemutusan hubungan kerja dan pekerja yang dirumahkan masih cukup besar," katanya.

Karena itu, sambung Bhima, ke depannya pemerintah harus memperhatikan kenaikan harga makanan yang bakal jadi penggerak inflasi. "Jika trennya berlanjut, ini harus diantisipasi adanya masalah pasokan yang serius," pungkasnya.

Ekonom dari Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet menambahkan, naiknya tingkat infl asi di Juni 2020 belum dapat disimpulkan sebagai adanya perbaikan daya beli masyarakat sebab tingkat inflasi inti yang dijadikan acuan untuk mengukur penawaran dan permintaan mengalami penurunan.

Meski di tengah pandemi ini pemerintah telah berupaya menjaga di sisi supply (penawaran) untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, di sisi demand (permintaan) masih terjadi guncangan. Hal itu pula yang menyebabkan pola infl asi kali ini tidak berjalan seperti biasanya.

"Kalau ingin mengembalikan infl asi ke 'normal', sisi demand ini yang perlu diberi stimulus. Diskusinya kembali lagi pada seberapa cepat dan tepat sasarannya pemerintah dalam menggelontorkan bantuan untuk hal ini," kata Yusuf.

Inflasi flat

Saat menyampaikan hasil survei lembaganya kemarin, Kepala BPS Suhariyanto menyatakan tingkat infl asi pada Juni 2020 mencapai 0,18% yang dipicu kenaikan harga daging ayam ras dan telur ayam ras.

"Terjadi kenaikan inflasi, meski tipis," kata Suhariyanto. Dengan perkembangan tersebut, laju infl asi Januari-Juni 2020 tercatat sebesar 1,09%. Namun, bila dilihat secara tahunan (yoy), inflasi pada Juni 2020 masih lebih rendah, yakni 1,96% jika dibandingkan dengan Juni 2019 yang mencapai 3,28%.

"Di tahun sebelumnya, Ramadan dan Lebaran akan jadi puncak infl asi dan turun setelahnya. Tapi tidak terjadi di tahun ini karena covid. Inflasi pada tahun ini lumayan flat, dan satu bulan sesudah Lebaran naik sedikit 0,18%. Secara tahunan 1,96%," ujar Suhariyanto.

Sementara itu, harga komoditas yang memberikan andil pada tingkat deflasi, yakni turunnya harga bawang putih, cabai merah, minyak goreng, dan gula pasir. Sementara itu, pada kelompok pengeluaran transportasi, kenaikan tarif angkutan udara menjadi penyumbang terbesar tingkat infl asi. Tercatat, pada Juni 2020 tarif angkutan udara mengalami infl asi 0,41%. (Mir/E-2)

BERITA TERKAIT