02 July 2020, 08:15 WIB

Inflasi Juni Tinggi, Sinyal Pulihnya Ekonomi Masyarakat ?


Raja Suhud | Ekonomi

ANGKA inflasi  Juni sebesar 0,18%  jauh lebih tinggi dibandingkan inflasi bulan Mei 2020 yang tercatat 0,07%.  

Inflasi yang rendah kerapkali dianggap sebagai simbol daya beli masyarakat  yang melemah. Lalu apakah inflasi yang relatif tinggi di Juni ini menyiratkan kembalinya daya beli masyarakat dan menjadi pertanda telah pulihnya perekonomian? 

Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan tingginya permintaan masyarakat terhadap bahan makanan telah memicu terjadinya inflasi pada Juni 2020 sebesar 0,18%.
  
Airlangga Hartarto dalam pernyataan di Jakarta, Rabu (1/7) , mengatakan permintaan yang mulai pulih tersebut memperlihatkan aktivitas ekonomi mulai berjalan dalam suasana normal baru.
  
Membaiknya aktivitas ekonomi juga ditunjukkan semakin meningkatnya domestic demand, seperti ditandai dengan inflasi daging ayam ras 0,14% dan telur ayam ras 0,04%," kata Airlangga Hartarto.
  
Airlangga mengatakan pembukaan kantor-kantor pada normal baru telah mendorong pembukaan warung atau rumah makan serta mendorong permintaan atas daging ayam dan telur ayam ras.
  
Kondisi itu yang menyebabkan kelompok makanan, minuman dan tembakau menyumbang inflasi tinggi 0,47% pada bulan Juni 2020.
  
Selain itu pembukaan kegiatan ekonomi juga mempengaruhi sektor transportasi yang mulai menggeliat, terlihat dari inflasi tarif angkutan
udara, tarif angkutan antar kota, dan kendaraan roda dua online.
  
Tarif angkutan udara tercatat menyumbang andil inflasi 0,02 persen serta tarif angkutan antar kota dan tarif roda dua online masing-masing 0,01%.
  
Airlangga mengharapkan aktivitas ekonomi yang mulai berjalan ini bisa memberikan kontribusi kepada konsumsi rumah tangga dan pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan.
  
Sebelumnya Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat terjadinya inflasi pada Juni 2020 sebesar 0,18% atau lebih tinggi  dibandingkan rata-rata
periode sebelumnya.
  
Tingginya permintaan masyarakat atas komoditas tertentu, membuat inflasi harga bergejolak (volatile food) tercatat mencapai 0,77% pada Juni 2020.
  
Meski demikian terdapat beberapa komoditas yang harganya masih turun dan menyumbang deflasi seperti cabai merah, cabai rawit, bawang putih dan minyak goreng.
  
Stabilnya harga komoditas itu didukung oleh hasil panen, kelancaran distribusi di tengah kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), serta harga komoditas global yang masih rendah. (Ant/E-1)

BERITA TERKAIT