01 July 2020, 18:05 WIB

Galon Sekali Pakai Dinilai bisa Jadi Masalah Sampah Plastik Baru


Ghani Nurcahyadi | Humaniora

PEGIAT Lingkungan menyayangkan adanya air minum dalam kemasan (AMDK) galon sekali pakai. Kemasan itu dinilai bisa menciptakan masalah sampah plastik baru di masyarakat.

Hal itu mengemuka dalam webinar bertajuk Community & Media Gathering Pawai Bebas Plastik 2020, Selasa (30/6).

"Harusnya itu tidak dibenarkan karena itu membawa kita ke keadaan kembali ke belakang, ke penggunaan plastik sekali pakai. Karenanya, kami meminta masyarakat agar tidak menggunakan produk ini sesuai dengan tuntutan kita dalam kampanye bebas plastik, yaitu menolak plastik sekali pakai,” kata Tubagus Soleh Ahmadi Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Jakarta, Tubagus Soleh Ahmadi dalam webinar itu.

Tubagus mengatakan Indonesia sudah sejak lama memiliki Peraturan Pemerintah No.81 Tahun 2012 tentang Pengolahan Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga.

PP itu secara tegas memerintahkan produsen untuk tidak menggunakan produk-produk sekali pakai. Selain itu juga ada Peraturan Menteri KLH Tahun 2019 tentang Roadmap Pengurangan Sampah Oleh Produsen, meskipun isinya sangat tidak ambisius.

Gerakan Kampanye Bebas Plastik menurut Tubagus akan tetap menyerukan pentingnya industri atau produsen harus bertanggung jawab atas pencemaran yang merusak lingkungan yang disebabkan oleh produk yang tidak terurai oleh alam.  

Baca juga : Penting! Merawat Diri di Masa Pandemi

Hal senada juga diungkapkan Juru Kampanye Urban Greenpeace Indonesia Muharram Atha Rasyadi. Salah satu tuntutan kampanye bebas plastik adalah ingin mendorong para produsen agar berbenah.

Undang-Undang nomor18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah Nasional secara tegas dan jelas mengatakan bahwa semua pihak baik pemerintah, produsen, hingga masyarakat, perlu mengambil peranan untuk menjaga lingkungan. Namun faktanya masih minim sekali terlihat langka nyata dari industri atau produsen.

“Karena kita tidak bisa menyelesaikan masalah ini hanya dengan peran masyarakat dan pemerintahnya saja, tapi kita juga butuh produsen," ujarnya.

Direktur Eksekutif  Gerakan Indonesia Diet Kantong Plastik Tiza Mafira mengatakan, Pawai Bebas Plastik 2020 akan menuntut pemerintah terhadap larangan beberapa jenis plastik sekali pakai dan perbaikan manajemen sampah di Indonesia.

Gerakan ini juga mengeluarkan tuntutan ke perusahaan dan para pengguna kemasan plastik untuk mulai berubah dengan tidak menggunakan plastik sekali pakai.

“Karena perusahaan besar banyak yang belum berubah. Itu yang kita bicarakan selama kampanye. Kita akan mengajak semua masyarakat di Indonesia untuk tidak menggunakan plastik sekali pakai ini,” katanya. (RO/OL-7)

BERITA TERKAIT