01 July 2020, 20:02 WIB

Publik masih Butuh Media Konvensional di Tengah Gempuran Medsos


Emir Chairullah | Politik dan Hukum

ANGGOTA Dewan Pers Agus Sudibyo meyakini disrupsi yang terjadi dalam media mainstream tidak akan menghancurkan industri tersebut.

Pasalnya, publik dan pengiklan saat ini sudah mulai kembali melirik media untuk mencari informasi dan berbisnis.

“Disrupsi tidak akan total. Akan terjadi keseimbangan baru antara media konvensional dan media sosial,” katanya dalam diskusi daring bertajuk ‘New Equilibrium: Fajar Baru untuk Media Jurnalistik’, Rabu, (1/7)

Harapan baru ini bermula kegagalan media sosial mengontrol mesin-mesinnya untuk tidak menyebarkan pesan yang mengadung ujaran kebencian, semangat permusuhan, terorisme, dan rasialisme. Akibatnya sejumlah perusahaan besar internasional seperti Unilever dan Starbucks menghentikan kerja sama penayangan iklan di Facebook dan Youtube.

Lebih lanjut Agus menjelaskan, fenomena pencabutan iklan tersebut mengoreksi apriori banyak pihak mengatakan media mainstream akan ketinggalan dari media sosial.

Kenyataannya, tambah Agus, publik dan pengiklan membutuhkan media konvensional sebagai suatu hal yang tidak bisa dilayani media sosial terutama dalam hal verifikasi sumber berita. “Para pengiklan mulai khawatir dengan berbagai aktivitas media sosial seperti FB dan youtube. Karena itu mereka mulai kembali beralih ke media konvensional,” jelasnya.

Dengan situasi ini, media konvensional harus menunjukkan kembali jati dirinya sebagai penyedia informasi yang lengkap. Media konvensional, tambahnya, sebaiknya menghindari berita desas-desus yang selama ini menjadi andalan media sosial. “Masyarakat akan butuh informasi sesuai dengan kebutuhan masing-masing. Kelemahan media sosial bisa jadi kekuatan media konvensional terutama dalam memberikan informasi yang lengkap,” ujarnya.

Sementara itu, editor senior The Jakarta Post Endi Bayuni menyebutkan, sejumlah platform media sosial seperti Facebook dan Google sudah memulai kerja sama dengan media mainstream untuk fact checking. Hal ini dilakukan agar para penguasa media sosial itu tidak ditinggal para pelanggannya. “Namun kita melihatnya ada upaya dari Facebook dan Google untuk men-share revenue mereka dengan media mainstream,” ungkapnya.

Bagi Endi, kedua platform tersebut melihat Indonesia merupakan pasar yang cukup besar bagi produk mereka. “Karena itu mereka tentu akan perhatikan lingkungan di Indonesia,” jelasnya.

Wartawan senior Bambang Harymurti menyebutkan, fenomena kerja sama FB dan google tersebut sebagai indikasi yang baik bagi dunia jurnalistik di Indonesia. “Good business dan good journalism harus berjalan bersamaan dan jangan bertolak belakang,” katanya. (OL-8)

BERITA TERKAIT