01 July 2020, 14:22 WIB

Kementan Tingkatkan Kewaspadaan Terhadap Flu Babi di Tiongkok


mediaindonesia.com | Ekonomi

KEMENTERIAN Pertanian (Kementan) melalui Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) memberikan penjelasan tentang temuan virus baru Flu Babi (Swine Flu) G4 EA H1N1 yang dipublikasi oleh ilmuwan Tiongkok baru-baru ini.

Temuan ini, menurut Dirjen PKH, I Ketut Diarmita, sempat membuat masyarakat bingung, karena menganggap flu babi sama dengan demam babi afrika atau african swine fever (ASF). Ia menegaskan bahwa flu babi dan demam babi afrika adalah dua penyakit yang berbeda. 

“Kasus penyakit pada babi yang ada di Indonesia pada saat ini adalah ASF dan bukan flu babi,” ungkap Ketut di Jakarta, pada Rabu (1/7).

Menurut Ketut, penyakit flu babi yang dilaporkan ilmuwan Tiongkok adalah penyakit yang disebabkan virus infulenza H1N1 galur baru dan berpotensi menular dari hewan ke manusia (zoonosis).

Sementara itu, kasus penyakit pada babi yang ada di Indonesia adalah penyakit ASF yang disebabkan virus ASF yang tidak dapat menular kepada manusia

“Sejak akhir tahun 2019, kasus ASF dilaporkan di Indonesia tepatnya di Sumatera Utara. Kementan terus memantau perkembangan kasusnya, dan berdasarkan data yang ada, tidak pernah ada laporan kejadian ASF pada manusia di seluruh negara tertular,” jelas Ketut.

Lebih lanjut, Ketut memastikan bahwa sejak ASF mulai dilaporkan di Tionngkok pada tahun 2018.

Kementan, tegas Ketut, secara konsisten terus melakukan pengendalian dan mensosialisasikan tentang ASF ke provins, kabupaten, dan kota melalui edaran dan juga sosialisasi secara langsung, pelatihan, dan simulasi. 

Ketut menerangkan bahwa pada saat ini, kasus flu babi khususnya galur baru seperti pada pemberitaan, belum pernah dilaporkan di Indonesia.

Ia menegaskan bahwa berbagai langkah kewaspadaan akan terus dilakukan oleh Kementan untuk mengurangi potensi masuk dan menyebarnya flu babi tersebut di Indonesia.

“Jadi masyarakat tidak perlu khawatir terkait flu babi ini. Pemerintah akan terus memantau dan berupaya agar penyakit ini tidak terjadi di Indonesia,” ucapnya. 

Ketut juga menegaskan bahwa Kementan akan terus perkuat kapasitas deteksi laboratorium kesehatan hewan di Indonesia, serta meminta jejaring laboratorium tersebut untuk melakukan surveilans untuk deteksi dini penyakit yang dimaksud.

Ia menyebutkan juga bahwa para petugas katantina selalu waspada dipintu-pintu pemasukan untuk mengawasi pemasukan hewan dan produk yang mempunyai potensi risiko membawa penyakit. 

Sebelumnya diberitakan bahwa ada temuan galur baru virus influenza H1N1 pada babi di Tiongkok yang dianggap para ahli mempunyai potensi menulari manusia dan menimbulkan pandemi di masa yang akan datang.

“Pengawasan sistematis terhadap virus influenza pada babi adalah kunci sebagai peringatan kemungkinan munculnya pandemi influenza berikutnya. Kita akan siapkan rencana kontingensinya juga,” pungkas Ketut. (OL-09)

BERITA TERKAIT