01 July 2020, 06:00 WIB

Beban Rumah Sakit makin Berat


Faishol Taselan | Nusantara

JAWA Timur masih menyimpan bara. Kemarin, sebanyak 331 orang dilaporkan sebagai pasien baru covid-19.

Total pasien di era pandemi di wilayah ini mencapai 12.136 orang. Masih menjadi yang terbanyak di Tanah Air.

Sejumlah rumah sakit rujukan mulai dibayang-bayangi kekhawatiran. “Kami berharap tidak ada gelombang kedua,” kata Ketua Gugus Tugas Kuratif Penanganan Covid-19 Jatim, dr Joni Wahyuhadi, kemarin.

Direktur Rumah Sakit Umum Daerah dr Soetomo itu menyatakan semua tempat tidur di ruangan isolasi sudah terisi. “Ada 232 bed diisi 232 pasien. Mereka tersebar di ICU, HCU, dan low care unit.”

Selama pandemi, lanjutnya, RSUD dr Soetomo telah merawat 1.097 pasien. Sebanyak 865 pasien atau 70% di antaranya ialah warga Kota Surabaya. Sebanyak 232 pasien lainnya berasal dari sejumlah daerah di Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, dan Maluku.

Ia menambahkan manajemen RSUD milik Pemprov Jatim ini selalu menjaga hubungan baik dengan Pemkot Surabaya. “Kami terus berkoordinasi dan bersikap terbuka.”

Kerepotan di rumah sakit juga dirasakan di Kabupaten Sidoarjo. Wakil Ketua Penanganan Covid-19, Komisaris Besar Sumardji, mengakui tujuh rumah sakit rujukan sudah penuh.

“Pemerintah kabupaten mengalihkan ke sejumlah rumah sakit rujukan di daerah lain. Bagi orang tanpa gejala, mereka ditampung di Mal Pelayanan Publik,” ujarnya kepada perwakilan organisasi mahasiswa.

Kepala Polresta Sidoarjo itu mengimbau mahasiswa ikut berpartisipasi menekan angka penyebaran covid-19. “Jaga kondusivitas keamanan dan ketertiban masyarakat di tengah pandemi.”

Tes terkendala

Kerepotan juga sudah terjadi di RSUP Sanglah, Denpasar, Bali. Dari total kapasitas ruang rawat inap untuk 71 orang, jumlah pasien covid-19 yang dirawat sudah mencapai 69 orang. “Jika beberapa hari ke depan pasien baru berdatangan, rumah sakit pasti penuh. Kami sedang menyiapkan satu ruangan lagi untuk 33 pasien,” kata Humas RSUP Sanglah Dewa Ketut Kresna.

Direktur RSUP Sanglah Wayan Su­dana mengakui sudah terjadi pe­numpukan pasien covid-19. “Kamar isolasi sudah penuh saat ini.”

Wayan mengaku sudah berkoordinasi dengan Kepala Dinas Kesehatan Bali. Mereka memutuskan untuk merawat pasien dalam perawatan tanpa penyakit lain di Wisma Bisma, sementara orang tanpa gejala akan dipindahkan ke tiga hotel, yakni Ibis Kuta, Grand Mega, dan Mercure.
Banyaknya jumlah pasien di Bali terjadi setelah pemerintah provinsi giat menggelar tes cepat massal.

Di Sulawesi Selatan, upaya penanganan pasien covid-19 juga terkendala. Salah satunya terjadi di Rumah Sakit Universitas Hasanuddin, Makassar. Mereka terpaksa menghentikan pemeriksaan tes swab di laboratorium sejak 27 Juni lalu.

“Banyak sampel terkontaminasi virus sepekan terakhir. Kami harus menutup laboratorium dan melakukan dekontaminasi ruang­an pada 28 Juni-1 Juli,” kata juru bicara Universitas Hasanuddin, Ishaq Rahman.

Ia menjanjikan, setelah proses dekontaminasi selesai, proses pemeriksaan akan lebih optimal lagi. Selain itu, mesin-mesin pemeriksa di laboratorium yang bekerja 24 jam sehari bisa beristirahat.

Di Maluku Utara, tes swab juga tidak bisa dilakukan RSUD Chasan Bosoirie, di Kota Ternate. “Persediaan cartridge tes cepat melekuler menipis,” ungkap juru bicara Gugus Tugas Covid-19 Alwia Asagaf.

Tidak adanya peranti itu membuat pemeriksaan sampel tidak bisa dilakukan. Alhasil, tidak ada penambahan kasus baru ataupun pasien sembuh.

“Sampai sekarang, kami belum mendapat informasi kepastian kapan ada droping peranti itu dari pemerintah pusat,” tambah Alwia. (HS/OL/LN/HI/N-2)

BERITA TERKAIT