01 July 2020, 00:35 WIB

Bahaya Hepatitis B pada Ibu Hamil


MI | Humaniora

KASUS hepatitis B merebak di berbagai kecamatan di Kota Tasimalaya, Jawa Barat, dengan jumlah pasien mencapai 32 orang.

Kebanyakan dari mereka ialah ibu hamil. Dinas Kesehatan Tasikmalaya turun langsung ke lapangan karena melihat kenaikan kasus yang signifikan. Kepada para pasien, petugas dari dinas kesehatan memberikan vaksinasi Hb 0, imunoglobulin hepatitis B (HBIG), dan vitamin K. Mereka juga ditempatkan di ruang isolasi khusus supaya tidak semakin menyebar.

Dokter spesialis penyakit dalam Dr dr Irsan Hasan SpPD-KGEH, Finasim menjelaskan, hepatitis merupakan infeksi hati karena virus yang menular. Di Indonesia, tiga penyebab penyakit hati tertinggi ialah hepatitis B, C, dan NAFL. Selain melalui hubungan seksual, virus hepatitis B juga bisa menular dari jarum yang terkontaminasi virus dan transfusi darah dari anak ke anak serta secara vertikal atau dari ibu ke bayi (perinatal).

“Pasien dengan penyakit hati kronis harus dipantau dan dikontrol teratur,” ujarnya dalam webinar bertajuk Menjaga Kesehatan Hati di Era New Normal yang diadakan Kalbe Farma, Jumat (26/6).

Baca juga : Puluhan Ibu Hamil di Tasiklamaya Terserang Hepatitis B

Anggota Perhimpunan Peneliti Hati Indonesia (PPHI) itu menjelaskan bayi yang terinfeksi hepatitis B berisiko 90% menderita hepatitis kronis bertahun-tahun bahkan sampai meninggal dunia. Sementara itu, bila yang tertular orang dewasa, kemungkinan menjadi kronis sekitar 10%.

Pada orang dewasa yang baru terkena hepatitis B umumnya akan mengalami gejala, antara lain matanya menguning dan mual. Sementara itu, pada mereka yang sudah kronis karena menderita penyakit sejak bayi umumnya tak mengalami gejala apa pun.

“Hepatitis kronis biasanya baru terdeteksi jika sudah terjadi komplikasi, salah satunya sirosis atau pengerasan hati. Untuk itu, deteksi dini yang bisa dilakukan satu-satunya melalui tes darah,” urai Irsan.

Baca juga : Cegah Hepatitis A Menyebar, Kemenkes Intervensi Khusus

Menurutnya, tidak semua penderita hepatitis sembuh dengan mengonsumsi obat antivirus. Pasien baru diberi obat jika memenuhi kriteria indikasi, salah satunya didapat dari kadar alanin aminotransferase/ALT normal saat tes pengukuran enzim SGPT di dalam darah.

Enzim SGPT merupakan indikator yang sensitif terhadap kerusakan hati. Enzim ini digunakan untuk mengindentifikasi penyakit hati selama lebih dari 50 tahun.

“Kalau diberi obat, siap-siap antivirus diberikan bertahun-tahun dan ada kemungkinan seumur hidup,” pungkasnya. (AD/Ant/H-2)

BERITA TERKAIT