30 June 2020, 18:10 WIB

Menyiasati Internet di Masa Pandemi Agar tidak Lelet


Mediaindonesia.com | Teknologi

PANDEMI covid-19 yang melanda di banyak negara, termasuk Indonesia bukan saja melumpuhkan berbagai sektor kehidupan masyarakat, tetapi juga telah mengubah berbagai kebiasaan sehari-hari. Salah satunya adalah penggunaan internet.

Sebelum terjadinya wabah ini, internet sebenarnya sudah menjadi kebutuhan yang penting. Tetapi di masa pandemi ini, kebutuhan akan internet menjadi semakin vital. Pasalnya dengan adanya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), masyarakat harus berhubungan lewat dunia maya.

Baca juga: Penggunaan Internet Naik Signifikan Saat Pandemi Covid-19

Jika sebelumnya, internet hanya digunakan untuk membuka media sosial, browsing, atau membaca berita, kini internet dibutuhkan untuk bekerja dan kegiatan belajar mengajar untuk anak sekolah sehari-hari. Itu sebabnya kebutuhan akan internet yang cepat menjadi sangat penting.

Sayangnya, tidak semua wilayah di Indonesia sudah terdapat jaringan internet yang memadai. Bahkan di kota-kota besar sekali pun, kerap kita mendapatkan internet yang lambat koneksinya.

Penyebab internet lemot atau lambat itu seperti diungkapkan Marketing Manager TP-Link Indonesia, Yoshia sebenarnya tidak tunggal, tapi banyak faktor. Mulai dari infrastruktur internet, interferensi jaringan, penggunaan data, traffic yang tinggi, faktor pemilihan perangkat dan kerusakan perangkat, adanya faktor pengganggu di dalam ruangan, dan lainnya.

Dalam beberapa kasus, kata dia, adanya interferensi signal wireless memang butuh restart, tapi umumnya lambatnya kecepatan akses sebenarnya dipicu oleh faktor lain, sehingga re-start tidak membawa dampak yang berarti.

"Masih banyak yang menganggap perangkat jaringan adalah satu kesatuan dengan layanan internet atau layanan Internet Service Provider (ISP). Padahal, perangkat jaringan dan layanan internet merupakan dua hal yang berbeda namun melengkapi dan mendukung satu sama lain," ujarnya.

"Jadi peran penting dari perusahaan penyedia perangkat jaringan, seperti TP-Link Indonesia, adalah dalam hal penyediaan komponen perangkat jaringan yang handal dengan dukungan teknologi, spesifikasi dan fitur yang mendukung layanan internetnya," imbuhnya.

Ia pun memberi tip dalam memilih router yang tepat. Pertama agar penggunaannya mencukupi, perhitungkan jumlah bandwidth yang tersedia dengan jumlah perangkat yang akan menggunakan bandwidth tersebut. Rendahnya kecepatan akses internet dari ISP yang tidak sebanding dengan jumlah perangkat yang terhubung. Contoh, penggunaan paket internet 10 mbps yang dibagi untuk 10 perangkat, secara teori setiap perangkat akan mendapatkan kecepatan internet sebesar 1 Mbps.

"Pilihlah perangkat router yang mendukung dual band 2.4 GHz dan 5GHz agar performa lebih maksimal."

Kemudian penempatan. Bahan-bahan di kantor seperti aluminium termasuk letak router bisa mempengaruhi kinerja router itu menjadi lebih buruk. Karena wireless dipancarkan melalui gelombang elektromagnetik melalui udara, maka halangan fisik dengan tingkat densitas tertentu akan melemahkan tingkat kekuatan signal sehingga faktor peletakan perangkat harus diperhatikan. Rules dasarnya adalah memastikan perangakat diletakan di tengah ruangan dengan posisi berada pada ketinggian yang cukup agar tercipta kondisi line of sight antara pemancar dengan perangkat penerima tanpa ada halangan fisik.

Untuk aktivitas online ringan seperti browsing, bermain social media, download dan chatting dapat menggunakan router entry level. Tetapi jika kebutuhan online seperti online gaming dan streaming yang tersambung sudah berada di atas nilai 10 hingga maksimal 20, maka disarankan untuk menggunakan perangkat router mid-high yang memiliki kemampuan dual band. (RO/A-1)

BERITA TERKAIT