30 June 2020, 09:44 WIB

Jadi Target Nasional, Bupati Lembata Ajak PKK Turunkan Stunting


Alex P Taum | Nusantara

BUPATI Lembata, Nusa Tenggara Timur, Eliazer Yentji Sunur berkomitmen menurunkan angka stunting di wilayah itu. Saat ini ada 666 anak menunjukan komitmen kuat untuk menurunkan angka stunting di wilayah itu. Di Lembata, terdapat 666 anak di bawah umur dua tahun menderita stunting, sedangkan 1.635 anak di bawah lima tahun juga menderita stunting.

Bupati Lembata menyampaikan hal itu di depan peserta rembuk stunting yang diikuti 50 perwakilan dari 144 desa/kelurahan di Kabupaten Lembata di aula Kantor Bupati Lenbata, Senin (29/6). Ia pun menandatangani berita acara komitmen bersama menurunkan angka stunting di wilayah itu pada 2020.

Ia menerangkan bahwa stunting telah menjadi isu nasional. Untuk mencegah dan menurunkan kasus tersebut diperlukan kerja sama lintas sektor, apalagi di Lembata kasus stunting masih tinggi baik di perdesaan maupun perkotaan.

"Stunting termasuk pada kategori anak-anak yang mendapat perhatian khsusus. Maka perlu penanganan khusus, ketika petugas kesehatan memberikan obat. Pemerintah desa harus memastikan apakah obat yang diberikan diminum atau tidak, situasi lingkungannya juga harus mendukung," kata Sunur.

Bupati menambahkan bahwa Kabupaten Lembata menjadi bidikan prioritas tingkat nasional dalam kasus stunting. Untuk itu ia meminta PKK di desa-desa harus diperkuat dengan aktivitas yang mendukung penanganan stunting.

"Masalah stunting ini kita keroyok secara bersama, persoalan kita adalah penangan stunting di tengah pandemi covid. Saya inginnya harus ada modifikasi penanganaan stunting di tengga pandemi. Rembug hari ini harus menghasilkan kebijakan yang dimodifikasi untuk penanganan stunting",  tegasnya. 

Dinas Kesehatan Kabupaten Lembata mencatat, hingga  Desember 2019 terdapat 666 anak di bawah umur dua tahun menderita stunting. Dan sebanyak 1.635 anak di bawah lima tahun juga menderita stunting.

baca juga: Cartridge TCM Menipis, Malut tak Bisa Lakukan Uji Swab

Menurut Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Lembata, Lusia Chadra, dampak negatif stunting dalam jangka pendek adalah terganggunya perkembangan otak, kecerdasan, gangguan pertumbuhan fisik dan gangguan  metabolism tubuh.

Dalam jangka panjang, stunting dapat menurunkan kemampuan kognitif dan prestasi belajar, menurunkan kekebalan tubuh, beresiko tinggi penyakit diabetes, penyakit jantung, penyempitan pembuluh darah, kanker, stroke dan disabilitas pada usia tua. (OL-3)

BERITA TERKAIT