30 June 2020, 04:15 WIB

DBD Mulai Ancam Kota Sukabumi


Benny Bastiandy | Nusantara

KURUN enam bulan terakhir, jumlah demam berdarah dengue (DBD) di Kota Sukabumi, Jawa Barat, mencapai 469 kasus. Dinas Kesehatan setempat pun meningkatkan kewaspadaan merebaknya penyakit akibat gigitan nyamuk aedes aegypti tersebut.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengandalian Penyakit Dinas Kesehatan Kota Sukabumi, Lulis Delawati, mengatakan secara umum terdapat 790 kasus yang diakibatkan gigitan nyamuk aedes aegypti selama semester pertama tahun ini. Rinciannya, demam berdarah tercatat sebanyak 299 kasus, demam berdarah dengue (DBD) sebanyak 469 kasus, dan dengue shock syndrome sebanyak 19 kasus. "Dari total kasus itu, jumlah kematian sebanyak 3 kasus," kata Lulis, Senin (29/6).

Berdasarkan laporan data yang tercatat pada Dinas Kesehatan Kota Sukabumi hingga 23 Juni 2020, jumlah kasus cukup menonjol terjadi pada April. Pada bulan itu terjadi 261 kasus dengan rincian demam berdarah (DB) sebanyak 123 kasus, DBD sebanyak 129 kasus, dan dengue shock syndrome (DSS) sebanyak 9 kasus.

"Jumlah kasus pada April memang cukup banyak dibanding bulan lainnya selama Januari-Juni. Kalau melihat data, selama periode Januari-Juni tahun ini, tren jumlah kasus ada peningkatan sedikit dibandingkan periode sama tahun lalu. Tidak terlalu signifikan," jelas Lulis.

Merebaknya DBD tahun ini tak terlepas tingginya curah hujan beberapa waktu lalu. Sekarang memasuki masa transisi perubahan iklim dari hujan ke kemarau. Dinas Kesehatan Kota Sukabumi melakukan berbagai upaya penanganan dan pencegahan.

"Upaya yang kami lakukan di antaranya deteksi dini kasus DBD yang datang ke Puskesmas serta menyosialisasikan promosi edukasi tentang penyuluhan DBD melalui langsung dan melalui media, baik oleh dinas maupun Puskesmas," terang Lulis.

Selain itu, kata Lulis, Wali Kota Sukabumi juga sudah membuat surat edaran kepada setiap instansi pemerintahan maupun swasta. Instruksi surat edarannya untuk meningkatkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) melalui pemberantasan sarang nyamuk (PSN) dengan cara 3 M plus (menutup, mengubur, dan menguras).

"Di setiap instansi, diimbau agar membuat spanduk yang berisi komitmen melakukan PSN," jelasnya. (R-1)

 

BERITA TERKAIT