30 June 2020, 03:50 WIB

Hotspot Akibat Karhutla di NTT Terus Bertambah


Palce Amalo | Nusantara

TITIK panas (hotspot) akibat kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di  Nusa Tenggara Timur (NTT) terus bertambah. Pada Senin (29/6) terpantau 10 titik hotspot dari sebelumnya dua titik.

Sebaran hotspot juga meluas dari sebelumnya hanya terpantau di Kabupaten Sumba Timur dan Sumba Tengah, kini juga terpantau di Alor, Kupang, dan Lembata. Hotspot terdeteksi mengunakan satelit Terra Aqua, Suomi NPP dan NOAA20.

Kepala Stasiun Meteorologi El Tari Kupang, Agung Sudiono Abadi  mengatakan sepuluh hotspot itu terpantau sejak 28 Juni pukul 08.00 Wita
hingga 29 Juni pukul 05.00 Wita. "Tingkat kepercayaan di atas 80  persen," katanya.

Menurutnya, di Sumba Timur, hotspot terpantau di Kecamatan Pandawai sebanyak satu titik. Pekan lalu, satu titik hotspot juga terpantau di Pandawai.

Selanjutnya  empat hotspot terpantau di wilayah Kabupaten Kupang yakni di Kecamatan Amfoang Timur dan Fatuleu Barat. Di Lembata, hotspot terpantau di Omesuri dan Lebatukan masing-masing satu titik, sedangkan di Alor, hotspot terpantau di Alor Barat Laut satu titik dan Kecamatan Pembantu Pantar dua titik.

Menurutnya, satelit akan mendeteksi anomali suhu panas dalam luasan satu  kilometer. Pada suatu lokasi di permukaan bumi akan diobservasi 2-4 kali per hari. Pada wilayah yang tertutup awan, hotspot tidak dapat  terdeteksi. Kekeringan dan hembusan angin kencang juga menjadi penyebab tidak langsung dalam sebaran suatu titik panas tersebut.

Dia menyebutkan citra satelit tersebut hanya menilai anomali reflekstifitas dan suhu sekitar yang diinterpretasikan hotspot.  "Penyebab adanya anomali tersebut tidak dapat kami justifikasikan apakah  itu akibat budaya bakar lahan atau alasan lainnya," ujarnya. (R-1)

 

BERITA TERKAIT