30 June 2020, 04:50 WIB

Ancaman Puso sudah Datang


UL/AD/BB/N-2 | Nusantara

SAWAH tadah hujan mulai merasakan dampak kemarau. Di Kecamatan Kandanghaur, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, bibit padi yang sudah telanjur ditanam di areal seluas 1.300 hektare sudah tidak mendapat pasokan air.

“Hujan telah 20 hari tidak turun. Air di sawah tidak ada, permukaan tanah sudah mengeras, bahkan retak-retak,” papar Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan Kandanghaur, Waryono, kemarin.

Kekeringan, lanjutnya, tersebar di empat desa. Petani tidak bisa berharap dari saluran irigasi di wilayah itu karena kondisinya juga sudah kerontang.

Upaya menyelamatkan tanaman juga terkendala. Mesin pompa tidak bisa digunakan karena air sungai terdekat sudah kering. “Membuat sumur pantek biayanya besar, sampai Rp1,5 juta,” sambung Waryono.

Sementara itu, petani di Tasikmalaya lebih antisipatif. Meski hujan masih turun, mereka sudah mengalihkan jenis tanaman dari padi ke palawija.

“Kami lebih memilih menanam singkong, ubi, kacang tanah, dan palawija lain karena tanda-tanda musim kemarau sudah terlihat,” kata Mustofa, 65, petani Kecamatan Kawalu.

Di Kabupaten Sukabumi, kekeringan sudah mulai mengancam 12 kecamatan. “Biasanya, ke-12 kecamatan itu mengalami kekeringan lebih awal. Dampaknya krisis air bersih,” kata Kepala Seksi Kedaruratan BPBD Eka Widiaman.

Lokasi ke-12 kecamatan itu menyebar bukan hanya di selatan, melainkan juga di bagian utara. Sejak pertengahan Juni, beberapa wilayah di Kabupaten Sukabumi sudah memasuki musim kemarau. (UL/AD/BB/N-2)

BERITA TERKAIT