30 June 2020, 01:15 WIB

Keseimbangan Baru di Kuartal Kedua


Dero Iqbal Mahendra | Ekonomi

SETELAH mengalami penurunan drastis akibat pandemi covid-19 di kuartal I 2020, pasar properti akan mulai bergerak meski dalam kondisi terbatas pada kuartal II 2020.

“Pasar properti tetap selalu ada. Selama harga market yang ditawarkan sesuai dengan kondisi sekarang ini, market akan tetap memiliki minat,” kata Wakil Ketua Umum DPP REI Bambang Eka Jaya saat dihubungi, kemarin.

Namun, jelas dia, besaran minat tersebut saat ini masih amat terbatas dan dengan harga yang di bawah sebelumnya. “Pihak penjual harus siap terkaget-kaget atas penawaran yang kurang dari 50% dari harga normal,” terang Bambang.

Lebih lanjut, dia melihat dari pihak penjual sudah melakukan berbagai upaya untuk menarik minat pembeli. Dari diskon, cara pembayaran, hadiah-hadiah langsung, angsuran yang lebih ringan dan panjang, hingga berbagai metode pemasaran lain.

Di sisi lain, pembeli juga membutuhkan kemudahan dan rasa aman dalam membelanjakan dana mereka. Untuk itu, dibutuhkan kebijakan pemerintah terkait ini, khususnya perpajakan.

Menurut Bambang, dari sisi properti saat ini yang mampu bergerak hanya dari pasar masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) yang didukung oleh pemerintah. Meskipun demikian, ada keterbatasan kemampuan pemerintah dalam memberikan subsidi. “Justru yang terabaikan ialah potensi market properti menengah atas yang perlu dan harus dibangkitkan dengan support pemerintah,” pungkas dia.


Ada daya beli

Pengamat properti sekaligus Business Development Executive Ray White Indonesia Robby Simon menilai pasar properti pada kuartal II 2020 mulai membaik dengan adanya daya beli yang mulai bergerak.

“Daya beli masih ada dan institusi finansial masih bergerak positif. Saya lihat bisnis properti makin cepat pulih dan semoga mulai mengarah pada kondisi pemulihan pada semester II/2020 ini,” ujar Robby seperti dikutip dari Antara, pekan lalu.

Ia pun melihat pada awal 2020 pasar properti mulai menunjukkan gelagat yang cukup baik. Tercatat, realisasi investasi properti mencapai Rp100 triliun dengan jumlah proyek baru sebesar 1.245 di seluruh Indonesia. Namun, kinerja ini harus terhenti akibat pandemi covid-19.

Ia mencatat, pada kuartal I 2020, pasar properti di Jabodetabek menurun sebesar 50,1%, dan pasar properti di Surabaya hanya tergerus sebesar 20% hingga 30%. Penurunan ini, menurutnya, bukan karena daya beli, melainkan psikologi pembeli sehingga menunda pembelian. Hal yang perlu dilakukan ialah bagaimana mengubah perspektif tersebut.

“Properti adalah kebutuhan yang paling mendasar bagi manusia, tetapi market sekarang ini lebih banyak berbicara tentang kebutuhan. Ada dua kriteria properti yang diminati dan cepat laku, pertama hunian yang ready stock dan kedua rumah second yang nilai jualnya di bawah pasar,” pungkas Robby. (S-3)
 

BERITA TERKAIT