29 June 2020, 16:10 WIB

Perusahaan ini Ikut Stop Beriklan di Medsos karena Hate Speech


Fathurrozak | Weekend

STARBUCKS Corp menyatakan akan jeda beriklan di semua platform media sosial, sembari mencari cara terbaik untuk membantu menghentikan penyebaran ujaran kebencian. Meskipun tidak secara eksplisit menyebut Facebook dalam pernyataan mereka, langkah tersebut merupakan respons dari adanya gerakan yang muncul untuk memboikot jejaring sosial. Kian banyak masyarakat merasa media sosial raksasa seperti Facebook tidak cukup berupaya untuk menghentikan ujaran kebencian di platformnya.
 
"Kami percaya harus lebih banyak yang dilakukan untuk menciptakan komunitas online yang ramah dan inklusif, dan kami percaya bahwa para pemimpin bisnis dan pembuat kebijakan perlu bersatu untuk mempengaruhi perubahan nyata. Perusahaan akan berdiskusi secara internal dan dengan mitra media dan organisasi hak sipil untuk menghentikan penyebaran pidato kebencian,” bunyi pernyataan Starbucks, dikutip dari The Guardian.
 
Laporan CNBC pada Minggu menambahkan bahwa jeda iklan di media sosial oleh Starbucks ini tidak meliputi platform YouTube, yang dimiliki Google Alphabet Inc. Meski perusahaan kopi tersebut menghentikan iklan sementara, mereka mengatakan tidak bergabung dengan kampanye boikot “Stop Hate For Profit,” yang muncul lebih lebih dulu pada bulan ini. Lebih dari 160 perusahaan, termasuk Verizon Communications dan Unilever Plc, ikut dalam kampanye untuk berhenti beriklan di Facebook Inc, platform media sosial terbesar di dunia.
 
“Kami memiliki kebijakan konten yang ketat dan tidak memiliki toleransi ketika dilanggar, kami mengambil tindakan. Kami menghentikan sementara iklan kami sampai Facebook dapat membuat solusi yang dapat diterima, yang membuat kami nyaman dan konsisten dengan apa yang telah kami lakukan dengan YouTube dan mitra lainnya,” kata Verizon’s chief media officer John Nitti dalam suatu pernyataan mengenai langkah yang diambil perusahaannya.
 
Facebook mengakui adanya peningkatan tekanan dari para pengiklan pada minggu lalu. Salah satu eksekutif di Facebook mengakui ada ‘penurunan kepercayaan’ dari kliennya di platform mereka.
 
Kampanye “Stop Hate for Profit” diluncurkan pada Rabu oleh kelompok-kelompok advokasi termasuk Anti-Defamation League (Liga Anti-Pencemaran Nama Baik), NAACP dan Color Of Change. Gerakan ini meminta pengiklan untuk menekan raksasa teknologi untuk mengadopsi kebijakan yang lebih ketat terhadap konten rasialisme dan kebencian pada platformnya dengan menghentikan semua pengeluaran iklan untuk bulan Juli.
 
Facebook menghasilkan $70 miliar AS (Rp1 kuadriliun lebih) dalam pendapatan iklan tahunan, dan menurut kampanye Stop Hate for Profit, di sisi lain Facebook juga ikut ‘memperkuat pesan supremasi kulit putih’ dan ‘mentolelir hasutan untuk melakukan kekerasan'. (M-1)

BERITA TERKAIT