29 June 2020, 05:50 WIB

Menjaga Peluang Emas Bonus Demografi


(Dro/S2-25) | Advertorial

SETENGAH abad lamanya Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) telah berdiri dan melangkah jauh untuk mencetak generasi muda berkualitas di Indonesia. Bukan perkara mudah membentuk program kependudukan, tetapi hal tersebut perlu terus dilakukan demi terciptanya generasi penerus berkualitas.

Hasilnya pun kini Indonesia berada di ambang kesempatan emas menikmati bonus demografi. Dalam rangka itu, pada peringatan Hari Keluarga Nasional (Harganas) ke-27 29 Juni 2020, BKKBN akan meluncurkan brand book yang memaparkan perjalanan singkat organisasi.

"Saya kira BKKBN telah mengantarkan Indonesia untuk masuk ke situasi kesempatan dari bonus demografi. Itu sejarah panjang yang perlu dihargai dan diungkapkan. Karena sukses mengantarkan ke peluang bonus demografi ini tidak diperoleh dalam tempo singkat, 5 atau 10 tahun, tetapi butuh jangka panjang," terang Kepala BKKBN Hasto Wardoyo kepada Media Indonesia di Jakarta, Jumat (26/6).

Hasto menilai saat ini tinggal bagaimana Indonesia memetik peluang itu hingga tidak sampai terlewat. Sebab, menurut dia, bonus demografi tidak akan pernah terulang lagi karena struktur penduduk tidak pernah berulang seperti itu. Kesempatan emas ini hadir dari program pengendalian penduduk di masa lampau. Bila tidak dimanfaatkan, negara kita akan sangat merugi.

Pencapaian ke-50 tahun ini pun disebut Hasto sebagai momen untuk terus berbenah dan terus melanjutkan visi dari pembangunan generasi berkualitas. Ia menjelaskan, saat ini Indonesia ada pada masa transisi demografi.

Pada tahap pertama, pengendalian penduduk ditandai dengan menurunnya secara tajam total fertily rate dan dilanjutkan dengan transisi berikutnya dalam bentuk pelandaian dari total fertility rate.

Indonesia, kata Hasto, sudah pada tahap tersebut. Dan nantinya akan ada transisi demografi lanjutan yakni zero growth. Indonesia sendiri diperkirakan akan mencapai kondisi ini pada 2075 bila tetap memegang pelandaian yang ada.

"Ini menjadi milestrone tersendiri, bahwa saat ini menjadi tonggak bagaimana di masa transisi landai saat ini apa yang harus diperbuat untuk memanfaatkan bonus demografi. Tidak boleh hanya biasa dan harus beda, terutama dalam hal kebijakan pemerintah," tutur Hasto.

Lebih lanjut ialah sejauh mana data kependudukan dipakai oleh pemerintah untuk membuat suatu kebijakan. "Jangan sampai karena tidak menggunakan data tersebut membuat kesalahan dalam pengambilan kebijakan," ujarnya.

Hasto pun menilai tugas berat BKKBN dalam hal menyosialisasikan dan mengedukasi masyarakat agar merencanakan kehamilan dan keluarga tetap harus dilakukan. Perencanaan yang baik akan menciptakan generasi yang berkualitas dan sehat. Ia pun menyebut, menikah bukan sekadar prewedding maupun resepsi, tetapi mempersiapkan banyak hal. Baik itu kesehatan fisik dan mental agar dapat memiliki keturunan yang berkualitas.

Misalnya, bila ingin memiliki anak yang sehat dan tidak stunting, 75 hari sebelum menikah dipersiapkan dengan baik asam folat untuk sel telur istri maupun protein dan zink bagi suami. Pengetahuan terkait sistem reproduksi maupun psikologi dalam pernikahan tersebut sebetulnya harus diketahui oleh para pasangan agar dapat menciptakan keturunan yang sehat.

"Pertumbuhan bayi itu dalam sebulan sudah lengkap organnya. Jangan sampai menunggu telat hingga dua bulan baru mengetahui kalau hamil. Hal itu untuk menghindari konsumsi obat-obatan yang tidak baik bagi pertumbuhan janin," ujar Hasto. Oleh sebab itu, menjadi tugas BKKBN untuk menyederhanakan berbagai pengetahuan tersebut dan menyampaikannya dengan jelas kepada masyarakat hingga ke pelosok desa.

Dampak pandemi

Lebih lanjut Hasto menerangkan bahwa dalam kondisi pandemi covid-19 saat ini yang melanda dunia, termasuk Indonesia, memang mempengaruhi tingkat kehamilan di masyarakat. Terlebih, bagi mereka yang putus dalam penggunaan alat kontrasepsi.

Secara teoretis, bila seseorang putus menggunakan kontrasepsi dan masih dalam usia produktif, sebanyak 15%-nya akan hamil dalam waktu 2-3 bulan dari jumlah yang putus kontrasepsi mereka. Apalagi, adanya pandemi mengakibatkan terjadi penurunan penggunaan kontrasepsi. Salah satunya lantaran bidan yang praktik turun 10%, sehingga menjadi hal yang wajar bila BKKBN juga kehilangan akseptor sekitar 10%.

Ia mengasumsikan jika angka terkecil akseptornya sebesar 28 juta orang saja dengan 10% yang tidak lagi menggunakan kontrasepsi jumlahnya bisa mencapai 2,8 juta selama pandemi. "Bila dalam 2-3 bulan yang 2,8 juta tersebut 15% yang hamil jumlahnya menjadi 420 ribu. Sehingga kalau ini tidak bisa diselesaikan, memang dalam 1 tahun bisa ada penambahan 420 ribu. Itu hitungan terpahit kami," ujar Hasto.

Oleh sebab itu, selama pandemi pihaknya tetap bekerja keras. Misalnya membagikan alat kontrasepsi gratis, mendorong kesepakatan dengan bidan, meminta PKB mengantarkan alat kontrasepsi ke bidan-bidan praktik swasta. "Jangan sampai terjadi baby boom, kalau pandemi ini didiamkan," terang Hasto.

BKKBN sendiri merupakan salah satu lembaga pemerintah yang terlibat dalam masalah kesehatan mengambil langkah konkret untuk mendukung Satuan Tugas dalam memerangi penyebaran covid-19.

Melalui kolaborasi yang kuat, BKKBN bersama dengan organisasi non-pemerintah Pusat Program Komunikasi Johns Hopkins (JHCCP Indonesia) telah mengembangkan strategi komunikasi, antara lain melibatkan 15 ribu Petugas Lapangan Keluarga Berencana (PLKB).

Kegiatan ini merupakan upaya BKKBN untuk memperkuat implementasi program di lapangan, khususnya layanan keluarga berencana untuk pasangan usia subur. Karena dengan penerapan peraturan PSBB dan bekerja dari rumah dapat mempengaruhi tingkat kehamilan yang tinggi jika penggunaan alat kontrasepsi di masyarakat menurun, termasuk juga untuk mencegah penyebaran covid-19 di Tanah Air.

Dalam rangka memperingati Harganas ke-27, BKKBN hadir melalui pelayanan sejuta akseptor secara serentak di seluruh Indonesia. Pelayanan sejuta akseptor ini juga akan memecahkan rekor MURI.

Adapun rangkaian kegiatan telah dilaksanakan sejak 25 Juni 2020, seperti workshop online 'Tentang Kita', launching Tentang Kita (modul segmentatif informasi kesehatan reproduksi dan perencanaan masa depan sebagai pegangan di Pusat Informasi dan Konseling Remaja) dan kartu anggota GenRe, workshop Charge Your Life bagi pendidik sebaya, dan lomba kover jingle BKKBN.

Selain itu ada pula lomba video Keluarga Bantu Keluarga, kampanye #2125Keren, talkshow Mempersiapkan Lansia Sehat, Aktif Mandiri, Produktif dan Bermartabat, dan kegiatan webinar internasional terkait covid-19. (Dro/S2-25)

BERITA TERKAIT