29 June 2020, 05:50 WIB

Waspada Nomophobia


Khoiruddin Bashori, Direktur Advokasi dan Pemberdayaan Masyarakat Yayasan Sukma Jakarta. | Opini

PEMBELAJARAN daring yang ‘terpaksa’ di­laksanakan selama pandemi tampaknya telah melampaui masa transisi. Semula banyak pihak--guru, orangtua, siswa--tampak gagap dengan model pembelajaran baru ini, kini sudah mulai dapat menikmati. Tidak lagi terdengar keluhan seperti di awal-awal pandemi. Indikasi diterimanya cara kerja dan belajar daring dapat dilihat dari maraknya rapat dan webinar yang informasinya berseliweran di media sosial. Tentu saja ini sangat menggembirakan. Daring sudah menjadi keniscayaan.

Meskipun demikian, booming pembelajaran daring juga menyertakan sebuah kekhawatiran. Jika sebelumnya siswa sudah sedemikian keranjingan gawai, kini semakin suntuk karena proses belajar-mengajar banyak dilaksanakan secara daring. Gawai juga menjadi alat hiburan utama dalam mengatasi kejenuhan work from ho­me (WFH). Benar, ponsel me­rupakan sumber kesenang­an. Akan tetapi, juga dapat men­jadi alat pengganggu. Oleh karena itu, yang diperlukan bu­kan meninggalkan ponsel, me­lainkan menggunakannya secara bijak.

Nomophobia

Nomophobia (nomofobia) atau no mobilephone phobia adalah ketakutan seseorang jika berjauhan dengan telepon seluler. King dkk (2010) mendefinisikan nomophobia sebagai suatu bentuk gangguan (disorder) dunia modern, be­rupa ketidaknyamanan atau kecemasan (anxiety) jika berjauhan dengan telepon seluler, komputer pribadi, atau peranti komunikasi maya yang lain. Bivin, Mathew, Thulasi, dan Philip (2013) menjelaskan nomophobia sebagai suatu perilaku ketagihan gawai, yang dimanifestasikan dalam bentuk gejala-gejala ketergantungan psikologis dan fisiologis.

Kecanduan gawai telah mewabah di hampir semua tingkat usia dan kalangan. Kini sudah jamak orang menyaksikan anak kecil merengek ‘berebut’ gawai dengan saudara atau orangtua. Siswa, terutama dalam usia remaja, tidak sedikit yang sangat cemas ketika ketinggalan ponsel, kehabisan baterai, atau paket data atau karena jangkauan jaringan kurang bagus. Itu sebabnya mengapa mereka hampir tidak pernah mematikan ponsel, membawa ponsel ke tempat tidur dan ke mana pun mereka pergi. Anak yang mengalami nomophobia bahkan cenderung membawa telepon tambahan sebagai cadangan ketika gawai utamanya bermasalah.

Telepon pintar telah mengubah rutinitas kehidupan sehari-hari, kebiasaan, perilaku sosial, kemandirian individu, hubungan keluarga, dan interaksi sosial (Samaha & Hawi, 2016). Pengguna telepon pintar yang tidak dapat memisahkan diri dari teknologi komunikasi itu akan mengalami beberapa risiko gangguan dalam kehidupan, seperti gangguan tidur (Demirci, Akgönül, & Akpinar, 2015), tekanan, keresahan, kemerosotan dan kehilangan ke­se­jahteraan hidup (Park & Lee, 2012), dan penurunan prestasi dan keterlibatan dalam aktivitas fisik (Thomee, Harenstam, & Hagberg, 2011).
Meskipun belum dimasukkan ke DSM-V (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Dis­orders, Fifth Edition), kecenderungan demikian, jika kurang mendapatkan perhati­an, dapat mengarah kepada gangguan kejiwaan yang lebih serius. Gejala nomophobia dapat pula berkaitan dengan gangguan mental lain yang sudah ada sebelumnya, seperti fobia sosial, gangguan kecemasan, dan gangguan panik. Hal itulah mengapa Shambare, Rugimba­na & Zhowa (2012) menyebut telepon seluler sebagai ‘possibly the biggest nondrug addiction of the 21st century’. Kecanduan nonnarkoba terbesar abad 21.

Gejala yang sering dialami penderita nomophobia ialah kegelisahan. Tanpa sebab yang jelas merasakan kecemasan yang berlebihan. Pikiran obse­sif. Jika memikirkan sesuatu, harus segera dilakukan. Tidak jarang mereka mengeluh sakit kepala dan perut. Merasakan kesendirian meskipun berada di tengah keramaian. Penderita juga cepat bosan. Malah untuk beberapa kasus mengalami takikardia. Percepatan detak jantung, keadaan detak jantung melebihi 100 kali per menit, padahal dalam keadaan normal jantung berdetak sebanyak 60 hingga 100 kali per menit.

Penyebab dan alternatif solusi

Beberapa hal dapat disebut sebagai penyebab nomophobia. Pertama, rendah diri. Itu tecermin dalam kebutuhan untuk selalu terhubung dengan orang lain. Anak takut isolasi atau kesepian. Kedua, perfeksionisme berlebihan. Disebabkan pikiran takut kehilangan acara-acara sosial dan kecemasan dianggap tidak hadir. Ketiga, kecemasan sosial. Disebut ‘FOMO’, singkatan dari fear of missing out, takut terlempar dari orbit pergaulan. Suatu bentuk kecemasan yang terkait dengan jejaring sosial, dan itu dapat dilihat dalam kebutuhannya untuk terus-menerus daring.
Hal-hal berikut dapat dilakukan agar tidak terjangkit nomophobia. Saat makan baik pagi, siang, maupun malam--usahakan untuk tidak memegang telepon seluler. Tentu tidak nyaman kita makan bersama seseorang yang selalu menatap layar. Di samping tidak sopan, kebiasaan makan sambil memainkan gawai membuat kita tidak dapat menikmati makanan dengan optimal karena otak fokus pada pesan-pesan yang keluar masuk gawai. Gunakan makan bersama untuk menikmati hidangan dan bercengkerama bersama keluarga.

Saat beristirahat, penting untuk memasang ponsel dalam mode silent saat tidur. Hal itu akan membuat kita tidur dengan lebih nyenyak. Kualitas istirahat akan sangat terganggu manakala bunyi notifikasi ponsel selalu terdengar. Gangguan yang ditimbulkan bukan semata karena bunyi notifikasi, tetapi lebih karena godaan yang ditimbulkan untuk selalu segera membuka ponsel. Semakin banyak platform media sosial yang diikuti seseorang semakin banyak pula gangguan notifikasi yang akan hadir.

Dalam relasi, abaikan kebutuhan untuk terus-menerus daring dan untuk mengetahui berita terbaru. Tidak mungkin kita menjawab semua harapan teman di jejaring sosial dan memperhatikan apa yang mereka beritahukan. Kita perlu waktu cukup untuk menikmati hidup dan berinteraksi secara langsung dengan orang-orang yang kita cintai. Jangan habiskan waktu untuk orang lain yang jauh, dengan mengabaikan orang-orang terdekat di sekitar kita.

Saat bekerja, letakkan ponsel dalam mode silent. Ini akan membantu kita jadi lebih efisien dan mudah berkonsentrasi pada tugas yang sedang dikerjakan. Ingat, memiliki telepon pintar tidak berarti harus menggunakannya sepanjang hari. Sebagai sebuah alat komunikasi, ponsel semestinya hanya dipergunakan saat diperlukan. Oleh karenanya, menyerahkan hidup sepenuhnya kepada telepon pintar ialah jenis perbudakan baru di era modern.

Nikmati hobi, tidak ada yang lebih menyenangkan daripada melakukan apa yang sangat kita sukai tanpa gangguan. Kegembiraan saat kita menikmati hobi tidak akan tergantikan oleh gawai. Lakukan bersama keluarga. Penting untuk menghabiskan waktu bersama orang-orang yang kita cintai. Jangan tukarkan senyum bahagia pasangan dan anak-anak dengan senyum virtual.

BERITA TERKAIT