29 June 2020, 04:30 WIB

Digitalisasi, Kunci UMKM untuk Bertahan


Despian Nurhidayat | Ekonomi

MENTERI Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah (Menkop dan UKM) Teten Masduki menyebutkan ada dua jenis usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang mampu bertahan di tengah pandemi covid-19.

Keduanya ialah UMKM yang terhubung ke ekosistem digital dan yang mampu melakukan inovasi produk. “Kami mencatat ada juga yang bertahan bahkan tumbuh pada masa pandemi covid-19, yaitu UMKM yang sudah terhubung dengan ekosistem digital, yaitu UMKM yang sudah terhubung dengan e-commerce,” ujar Teten dalam webinar Ikanas STAN di Jakarta, Sabtu (27/6).

Mantan Kepala Staf Kepresidenan itu menambahkan bahwa menurut catatan Bank Indonesia, penjualan UMKM di e-commerce meningkat 18% pada Mei 2020. Namun, baru sekitar 13% UMKM yang masuk e-commerce dan 87% lainnya belum.

“Sayangnya, yang sudah terhubung ke marketplace baru 13% atau sekitar 8 juta lebih, 87% masih offline. Karena itu, mungkin pada fase development dari penyelesaian wabah ini kita harus mempercepat transformasi digitalisasi UMKM dan koperasi,” sambungnya.

Selanjutnya, kata Teten, UMKM yang mampu bertahan di tengah pandemi covid-19 ialah UMKM yang berhasil melakukan adaptasi dan inovasi produk. Misalnya, pelaku UMKM konfeksi banting setir untuk membuat masker kain atau food processing.

“Juga, banyak inovasi produk, misalnya food processing makanan siap saji itu juga tumbuh baik dan kita mencatat penjualan yang meningkat adalah bahan pokok makanan minuman dan kebutuhan pribadi yang berkaitan dengan kesehatan dan kebutuhan rumah,” pungkas Teten.

Dia menyampaikan pihaknya selama ini terus mencoba melakukan konsultasi, pendampingan lewat daring kepada pelaku UMKM untuk melakukan perubahan bisnis, dan melakukan adaptasi serta inovasi produk menghadapi situasi baru saat ini.

 

Prasyarat transformasi

Staf Khusus Menteri Keuangan Yustinus Prastowo menyebut setidaknya ada tiga prasyarat yang harus dipenuhi UMKM untuk bertransformasi agar dapat bersaing dan bertahan di tengah pandemi covid-19. Pertama, dimulai dari integrasi dan konsolidasi kebijakan UMKM di Tanah Air.

Yustinus mengatakan sampai saat ini di Indonesia belum memiliki defi nisi tunggal mengenai UMKM. Oleh karena itu, penting untuk mengintegrasikan dan konsolidasi terkait kebijakan UMKM.

Prasyarat dua mengenai data UMKM. Yustinus mengatakan jika membicarakan mengenai data di Indonesia, saat ini tidak ada bedanya dengan kondisi Indonesia di era 1990- an. Ini lantaran tidak adanya transformasi mengenai data di Indonesia dalam kurun waktu yang cukup lama.

Prasyarat ketiga, kata dia, adanya pembangunan ekosistem digital di Tanah Air. Itu karena transformasi UMKM menjadi digital tidak hanya sekadar memindahkan orang berjualan di warung ke e-warung atau memindahkan orang berjualan di mal lalu ke platform digital.

“Tapi membangun ekosistem, mengubah paradigma baik goverment, stakeholder, pelaku lalu infrastrukturnya, dan lain lain perlu disiapkan,” pungkasnya. (Wan/E-3)
 

BERITA TERKAIT