28 June 2020, 19:00 WIB

Perlu Norma Baru dalam Kepemimpinan


Mediaindonesia.com | Politik dan Hukum

WAKIL Ketua MPR RI Lestari Moerdijat menegaskan perlu persepsi dan norma baru dalam kepemimpinan.
Menjadi pemimpin bukan soal pengecualian berdasarkan gender, karena setiap orang memiliki kesempatan yang sama baik laki-laki maupun perempuan.

"Saatnya menciptakan generasi setara melalui amplifikasi suara perempuan kepada generasi kini agar memiliki paradigma baru terhadap kepemimpinan," kata Lestari Moerdijat saat menjadi pembicara kunci dalam diskusi daring bertema Peran Kontributif Perempuan Politik dalam Penanganan Pandemi Covid-19, Sabtu (27/6).

Diskusi yang digagas DPP Kaukus Perempuan Politik Indonesia (KPPI) dan Conservative WFD Indonesia itu menghadirkan narasumber antara lain Edi Suharto (Dirjen Pemberdayaan Sosial Kementerian Sosial), B Wisnu Widjaja (Deputi Bidang Sistem dan Strategi BNPB), Nurhasanah SH, MH ( Sekjen DPP KPPI) dan Tori Peck (Ketua Bidang Partisipasi Perempuan Partai Konservatif Inggris).

Menurut Rerie, sapaan akrab Lestari, saat ini sudah waktunya semua perempuan bersama-sama tampil untuk menjadi pemimpin.

Pandemi Covid-19, menurut Rerie, membuka mata bahwa pemimpin negara perempuan relatif mampu mengatasi pandemi.

Tercatat tujuh pemimpin perempuan berhasil menekan angka kematian akibat virus korona. Para pemimpin perempuan itu yakni Angela Merkel (Jerman), Katrin Jakobsdottir (Islandia), Sanna Marin (Finlandia), Jacinda Ardern (New Zealand), Erna Solberg (Norwegia) dan Tsai Ing-Wen (Taiwan).

Keberhasilan pemimpin perempuan, menurut Rerie, karena perempuan mempunyai aspek kepemimpinan yang lebih komunikatif, terbuka, antisipatif, penuh empati serta mempunyai keberanian untuk mengambil keputusan dengan cepat dan tegas.

Dalam skala nasional, ungkap Legislator Partai NasDem itu, saat menghadapi wabah Covid-19 pun gerakan-gerakan sosial diinisiasi oleh para perempuan, seperti Gerakan Empu, yaitu gerakan pekerja seni perempuan pecinta kain yang membuat masker kain untuk dibagikan kepada masyarakat. Demikian juga dengan Solidaritas Pangan Jogja yang mengelola sejumlah dapur yang memproduksi nasi bungkus untuk dibagikan kepada masyarakat terdampak Covid-19.

"Dalam dinamika dunia yang belum selesai terkait kesetaraan gender, kepemimpinan menjadi sebuah syarat yang mestinya menjadi potensi, untuk melawan konstruksi sosial terhadap perempuan yang dihidupi hingga saat ini."

Untuk menghadapi hambatan berupa kerangka yang tak kasat mata itu, tegas Rerie, dengan niat baik saja tidak cukup. 

"Hanya melalui kegigihan dan usaha kita terus-menerus dan bersama-sama, kita akan dapat 
membongkar dan menghapus sistem yang berakar dalam ini," pungkasnya.

Dalam diskusi yang berlangsung hangat itu, Deputi Bidang Sistem dan Strategi BNPB, B Wisnu Widjaja dan Sekjen KPPI, Nurhasanah sama-sama menekankan peran signifikan perempuan dalam penangan virus korona di Tanah Air.

Mulai dari garda terdepan, ujar Wisnu, seperti tenaga medis dan perawat, perempuan-perempuan yang mempelopori berbagai gerakan untuk menekan laju penyebaran virus, hingga memberikan edukasi sekaligus menjaga imunitas anggota keluarganya.

Namun di sisi lain, tambah Nurhasanah, perempuan masih harus menghadapi berbagai masalah klasik. Baik secara struktur sosial, budaya hingga pendanaan yang kerap menjadi kendala bagi perempuan untuk mengoptimalkan perannya. (OL-8).

BERITA TERKAIT